Senin, 16 Januari 2017

Makalah Organ Reproduksi Ternak Betina



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Reproduksi merupakan suatu proses perkembangbiakan yang diawali dengan bersatunya sel telur dengan sperma yang kemudain berkembang menjadi zigot dan akhirnya terjadi kelahiran. Pada sistem reproduksi betina, terdiri atas beberapa organ yang saling berhubungan satu sama lain, karena tidak hanya menerima sel-sel telur yang diovulasikan oleh ovarium dan membawa sel-sel telur tersebut ke rahim, tetapi juga menerima sperma dan membawanya ke tuba falopii.

Dalam bidang peternakan, reproduksi tidak dapat didpisahkan dengan produktivitas ternak. Sebagai contoh untuk menghasilkan telur, susu, dan bakalan ternak, haruslah melalui proses reproduksi. yang dimulai dengan pembentukan sel telur/sel sperma, ovulasi, fertilisasi, pertumbuhan dan perkembangan fetus sampai dengan dilahirkan (partus).

Dengan demikian ilmu reproduksi ternak jantan maupun betina merupakan hal yang penting untuk dipelajari. Dengan mempelajari anatomi reproduksi ternak betina kita mengetahui cara kerja sistem reproduksi ternak dan diharapkan mampu diaplikasikan langsung di lapangan.

1.2 Identifikasi Masalah

1. Apa organ-organ reproduksi ternak betina mamalia?
2. Apa organ-organ reproduksi unggas betina? 
3. Bagaimana fungsi dari organ-organ reproduksi ternak betina mamalia?
4. Bagaimana fungsi dari organ-organ reproduksi unggas betina?

1.3 Tujuan Penulisan

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang dipaparkan diatas maka tujuan dari penulisan ini adalah:
1. Mengetahui organ-organ reproduksi ternak betina mamalia.
2. Mengetahui organ-organ reproduksi unggas betina.
3. Mengetahui fungsi dari organ-organ reproduksi ternak betina mamalia.
4. Mengetahui dari organ-organ reproduksi unggas betina.

1.4 Manfaat Penulisan

Berdasarkan hasil penulisan makalah ini diperoleh gagasan tertulis mengenai pengenalan organ-organ reproduksi ternak betina dan juga mengetahui fungsi dari organ-organ tersebut.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Organ Reproduksi Betina Ternak Mamalia

Organ reproduksi betina terbagi menjadi beberapa bagian, yang tersusun  dan bekerja sama secara kompleks hingga membentuk suatu kesatuan kerja sehingga dapat digunakan dalam proses reproduksi dan menghasilkan keturunan untuk mempertahankan kelangsungan hidup suatu spesies. Organ reproduksi betina terdiri dari beberapa bagian diantaranya adalah Ovarium, Tuba Falopii (Oviduk), Uterus, Serviks, Vagina, dan Vulva.

2.1.1 Ovarium

Ovarium terletak di dalam kavum abdominalis, mempunyai dua fungsi, yaitu sebagai organ eksokrin yang menghasilkan sel telur atau ovum dan organ endokrin yang mengeluarkan hormon reproduksi betina yaitu estrogen dan progesteron. Pada umumnya ovarium terdapat dua buah, kanan dan kiri yang terletak di dalam pelvis. Bentuk dan ukuran ovarium berbeda-beda menurut spesies dan fase dari siklus estrus. Ovarium terdiri atas bagian dalam yang disebut medulla dan bagain luar yaitu korteks (Soeparna & N.Solihati, 2014).

Dua komponen penting yang terdapat pada ovarium yaitu folikel dan korpus luteum. Folikel pada ovarium berasal dari epitel benih yang melapisi permukaan ovarium. Dalam mencapai berkembangannya, folikel mealui tingkatan-tingkatan folikel primer, sekunder, tersier (yang sedang tumbuh) dan de Graf (yang matang) (Tita D.L & Ismudiono, 2013).

Pada sapi, berbentuk oval dengan ukuran bervariasi dengan panjang 1,3-5,0 cm, dan lebar 1,3-3,2 cm, dan tebal 0,6-1,9cm. pada domba, ovarium berbentuk lonjong dengan panjang berkisar 1,3-1,9 cm, sedangkan pada kuda berbentuk seperti ginjal dengan ukuran panjang 4,0-8,0 cm, lebar 3,0-6,0 dan tebal 3,0-5,0 cm. Ovarium pada babi, berbentuk lonjong menyerupai serangkai buah anggur karena banyaknya folikel dan orpus luteum (Soeparna & N.Solihati, 2014).

2.1.2 Tuba Fallopii (Oviduk)

Saluran tuba atau tuba fallopi adalah salah satu komponen utama dari sistem reproduksi betina, dan mereka harus bekerja dengan baik untuk memastikan kesuburan. Setiap sisi rahim memiliki tuba falopi yang membentang mencapai ke ovarium pada sisi yang sesuai.

Fungsi utama dari saluran tuba adalah untuk menangkap telur yang dilepaskan dari ovarium setiap bulan selama ovulasi, dan membimbing mereka ke dalam rahim. Satu ovarium melepaskan telur setiap bulan secara sehat, ovulasi perempuan. Setelah telur muncul dari ovarium, serat kecil seperti rambut di ujung saluran tuba menarik telur di dalam tabung.

Tuba fallopi juga dikenal dengan istilah oviduct (saluran telur) dan kadang-kadang disebut tuba uterina. Saluran ini terdapat pada setiap sisi uterus dan membentang daricornu uteri ke arah dinding lateral pelvis (Farrer, 1996). Oviduct bersifat bilateral, strukturnya berliku-liku yang menjulur dari daerah ovarium ke cornu uteri dan menyalurkan ovum, spermatozoa dan zigot. Tiga segmen tuba uterina dapat dibedakan, yakni infundibulum (berbentuk corong besar), ampulla (bagian berdinding tipis yang mengarah ke belakang dari infundibulum, dan isthmus (segmen berotot yang berhubungan langsung dengan uterus (Dellman and Brown, 1992).

2.1.3 Uterus

Uterus merupakan suatu struktur saluran muskuler yang diperlukan untuk penerimaan ovum yang telah dibuahi, nutrisi dan perlindungan fetus, dan stadium permulaan eksplusi fetus pada waktu kelahiran. Uterus pada mamalia terdiri dari corpus, serviks dan dua tanduk atau cornua. Proporsi relative masing-masing bagian ini demikian pula bentuk dan susunan akan berbeda-beda pada setiap spesies sebagaimana organ-organ internal berongga pada umumnya dinding uterus terdiri dari selaput mukosa dibagian dalam, selapis otot licin dibagian tengah, dan selapis serosa dibagian luar ialah peritorneum (Lestari, Damayanti. 2014).

Menurut T.D Lestari dan Ismudiono (2013) dinding uterus terdapat tiga lapisan yaitu selaput mukosa dan sub mukosa yang disebut endometrium, lapisan yang ditengah yang merupakan otot disebut myometrium dan lapisan luar yaitu serosa disebut perimetrium. Uterus terdiri dari cornua uteri yang berfungsi tempat menempelnya zigot dan corpus uteri yang berfungsi sebagai tempat deposisi semen saat Inseminasi Buatan.

2.1.4 Serviks

Serviks meupakan otot sphincter yang terletak di antara uterus dan vagina. Struktur serviks pada hewan mamalia berbeda-beda tetapi umumnya dicirikan adanya penonjolan-penonjolan pada dindingnya. Pada ruminansia penonjolan-penonjolan ini ini terdapat dalam bentuk lereng-lereng transversal dan saling menyilang, disebut cincin-cincin annuler (annulus servikalis). Cincin-cincin tersebut tersusun dalam bentuk sekrup ulir (pembuka tutup botol) yang disesuaikan dengan perputaran spiralis penis babi. (Soeparna & N.Solihati, 2014).

Fungsi serviks yang utama adalah menutup lumen uterus sehingga tidak memberi kemungkinan untuk masuknya jasad renik ke dalam uterus. Lumen serviks selalu tertutup kecuali pada waktu birahi dan melahirkan. Pada waktu birahi hanya terbua sedikit untuk emberi jalan masuk bagi semen.(Tita D.L & Ismudiono, 2013).

2.1.5 Vagina

Vagina merupakan buluh berotot yang menjulur dari cervix sampai vestibulum. Lipatan memanjang rendah dari mukosa-submukosa terentang sepanjang vagina. Vagina sapi betina, lipatan melingkar yang penting juga terdapat di bagian kranial vagina. Variasi daur tampak pada tinggi serta struktur epitel. Peningkatan jumlah lendir vagina selama berahi terutama berasal dari cervix. Epitel yang mengalami kornifikasi yang meluas merupakan gejala berahi. Proses ekstensifikasi sangat jelas pada karnivora dan rodensia, tidak terjadi secara nyata pada ruminansia, mungkin karena pengeluaran estrogen yang rendah pada jenis ruminansia pada umumnya (Dellmann and Brown, 1992).

Vagina adalah bagian saluran peranakan yang terletak di dalam pelvis di antara uterus (arah cranial) dan vulva (caudal). Vagina juga berperan sebagai selaput yang menerima penis dari hewan jantan pada saat kopulasi (Frandson, 1992). Vagina adalah organ kelamin betina dengan struktur selubung muskuler yang terletak di dalam rongga pelvis dorsal dari vesica urinaria dan berfungsi sebagai alat kopulatoris dan sebagai tempat berlalu bagi fetus sewaktu partus (Feradis, 2010). Vagina memiliki fungsi sebagai alat kopulasi dan tempat semen dideposisikan (pada ruminansia), saluran keluar dari cervix, uterus, dan oviduct, dan jalan peranakan selama proses beranak (Widayati et al., 2008).

Vagina terletak di bagian belakang dari rongga pelvis sebelah atas dari kantong kencing. Pada waktu melahirkan rongga vagina dapat meluas dan membesar sesuai dengan besar fetus yang akan dilahirkan (Hardjopranjoto, 1995). Vagina berbentuk pipa, berdinding tipis dan elastis. Lapisan luar berupa tunika serosa yang diikuti oleh lapisan otot polos yang mengandung serabut otot longitudinal dan sirkular. Lapisan mukosa umumnya terbentuk dari stratified squamous epithelial cells. Sel epitel ini berubah menjadi sel yang tanpa nukleus karena pengaruh estrogen. Membran mukosa vagina terdiri dari sel kelenjar dan sel bersilia. Sel kelenjarnya sangat sedikit yaitu hanya pada bagian depan. Sel kelenjar ini menghasilkan lendir yang berfungsi sebagai lubrikasi dan melindungi terjadinya aberasi pada saat kopulasi (Widayati et al., 2008). Menurut Widayati et al. (2008), ukuran vagina bervariasi tergantung pada jenis hewan, umur, dan frekuensi melahirkan (semakin sering melahirkan, maka vagina semakin lebar). Vagina terdiri dari dua bagian, yaitu portio vaginalis cervices (bagian yang dekat cervix) dan vestibulum.

Bagian depan dari vagina mencakup portio vaginalis uteri dan permuaraan luar uterus dinamakan fornix vaginae. Dindingnya tipis terdiri dari otot licin, lumennya diseliputi oleh selaput mukosa yang berlipat-lipat, tanpa kelenjar, di mana lapisan mukosanya memperlihatkan berbagai keadaan yang secara fungsional tergantung kepada fase dari siklus birahinya (Hardjopranjoto, 1995). Legokan yang dibentuk oleh penonjolan cervix ke dalam vagina disebut fornix. Ia dapat membentuk suatu lingkaran penuh sekeliling cervix seperti pada kuda atau atau tidak ada sama sekali seperti pada babi. Suatu fornix dorsal dapat ditemukan pada sapi dan domba (Feradis, 2010).

2.1.6 Vulva

Vulva merupakan bagian terluar dari organ reproduksi betina. Alat kelamin luar terbagi atas vestibulum dan vulva. Vestibulum  merupakan  bagian  dari  saluran  kelamin betina  yang  berfungsi sebagai  saluran  reproduksi  dan  urinaria. Pada vulva terdapat bulu-bulu halus, vulva berfungsi sebagai tempat masuknya penis ternak jantan, hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Wodzicka et all., (1991). Labia terdiri atas labia mayora (lipatan luar vulva) dan labia minora (lipatan dalam vulva).  Labia vulva ditutupi oleh bulu-bulu yang jarang dan menjaga lubang luar saluran reproduksi. Pada domba commisure dorsal nya agak membulat, sedangkan dari bagian ventral labia diteruskan sebagai tonjolan di tengah-tengah. (Saliasbury, 1985). Dinding labia majora banyak mengandung kelenjar sebaceous dan tubuler, lemak jaringan elastic, selapis tipis otot licin, serta mempunyai struktur permukaan luar yang sama seperti kulit. Labia minora adalah bibir yang lebih dengan jaringan ikat dibagian dalamnya. Pada berbagai jenis ternak bibir vulva hanya sederhana dan tidak terdiri dari labia majora dan minora.

Siklus estrus pada ternak betina dapat dilihat dari perubahan pada vulvanya. Vulva dapat menjadi tegang karena bertambahnya volume darah yang mengalir ke dalamnya. Ciri khas yang tampak dari selaput lendirnya adalah Merah, Hangat, dan Bengkak. Vulva juga dapat berfungsi sebagai pelindung bagian vagina.


2.2 Organ Reproduksi Betina Ternak Unggas

Organ reproduksi ayam betina ini pada dasarnya terbagi menjadi dua yaitu ovarium dan oviduk, namun bagian dari oviduk ini terbagi menjadi lima bagian yaitu infundibulum, magnum, isthmus, uterus, vagina, kloaka. Bagian organ – organ tersebut yang akan membantu dalam proses pembentukan telur (yolk) dengan sempurna.

2.2.1 Ovarium

Pada unggas ovarium dinamakan juga folikel. Bentuk ovarium seperti buah anggur dan terletak pada rongga perut berdekatan dengan ginjal kiri dan bergantung pada ligamentum meso-ovarium. Besar ovarium pada saat ayam menetas 0,3 g kemudian mencapai panjang 1,5 cm pada ayam betina umur 12 minggu dan mempunyai berat 60 g pada tiga minggu sebelum dewasa kelamin. Folikel akan masak pada 9-10 hari sebelum ovulasi. Karena pengaruh karotenoid pakan ataupun karotenoid yang tersimpan di tubuh ayam yang tidak homogen maka penimbunan materi penyusun folikel menjadikan lapisan konsentris tidak seragam. Proses pembentukan ovum dinamakan vitelogeni (vitelogenesis), yang merupakan sintesis asam lemak di hati yang dikontrol oleh hormon estrogen, kemudian oleh darah diakumulasikan di ovarium sebagai volikel atau ovum yang dinamakan yolk (kuning telur). (Tri, 2004).

Folikel ini akan masak pada 9-10 hari sebelum ovulasi. Karena pengamh karoteiod pakan maupun karoteniod yang tersimpan di tubuh ayam yang tidak homogen maka penimbunan materi penyusun folikel tersebut menjadikan lapisan konsentris yang tidak seragam. Proses pembentukan ovum dinamakan vitelogeni (vitelogenesis) yang merupakan sintesa asam lemak di hati yang dikontrol oleh hormon estrogen kemudian oleh darah diakumulasikan di ovarium sebagai folikel atau ovum yang kemudian dinamakan yolk atau kuning telur. Dikenal dua fase perkembangan yolk yaitu fase cepat antara 7-4 hari sebelum ovulasi dan fase lambat pada 10-8 hari sebelum ovulasi serta pada 2-1 hari sebelum ovulasi. Akibat prekembangan cepat tersebut maka akan terbentuk gambaran konsentris pada kuning telur. Hal ini disebabkan perbedaan kadar xantopil dan karotenoid pada pakan yang dibelah oleh latebra dimana latebra ini juga menghubungkan antara inti yolk dengan diskus germinalis (Tri Y, 2004).

Pada ayam Dewasa kelamin diantaranya dipengaruhi oleh faktor cahaya dan pakan. Pengaruh pakan terhadap dewasa kelamin sangat ditentukan oleh kadar protein, lemak, protein dan kalsium, karena akan menyebabkan peningkatan hormon estrogen yang diperlukan untuk pembentukan sel telur, merangsang peregangan tulang pubis dan pembesaran vent guna mempersiapkan ayam betina untuk bertelur. Pola pemberian pakan dan nilai gizi yang terkandung di dalamnya sangat menentukan kondisi menjelang dewasa kelamin terutama organ reproduksi mulai dari ovarium sampai kloaka (Martha, 2012).

2.2.2 Oviduk

Menurut Tri, (2004) secara anatomi alat reproduksi ayam (oviduk) terbagi ke dalam 3 bagian (dari anterior ke posterior) yaitu sebagai berikut:

a. Infundibulum atau Papilon

Panjang dari bagian ini adalah 9 cm dan fungsi utama dari mfundibulum ini hanyalah menangkap ovum yang masak. Bagian ini sangat tipis dan mensekresikan sumber protein yang mengelilingi membran vitelina. Kuning telur berada di bagian mi antara 15-30 menit. Perbatasan antara infundibulum dan magnum yang dinamakan dengan sarang spermatozoa merupakan terminal akhir dari lajulintas spermatozoa sebelum terjadi pembuahan.

b. Magnum

Merupakan bagian yang terpanjang dari oviduk yaitu 33 cm dan magnum tersusun dari glandula tubuler yang sangat sensibel dimana sintesa dan sekresi putih telur terjadi di sini. Mukosa dari magnum tersususun dari sel gobelet. Sel gobelet mensekresikan putih telur kental dan cair. Kuning telur berada di magnum untuk dibungkus dengan putih telur selama 3,5 jam.

c. Isthmus

Berfungsi  mengsekresikan membran atau selaput telur. Panjang dari saluran isthmus adalah 10 cm dan telur berada di sini antara 1 jam 15 menit sampai 1,5 jam. Isthmus bagian depan yang berdekatan dengan magnum berwarna putih sedangkan 4 cm terakhir dari isthmus mengandung banyak pembuluh darah sehingga memberikan warna merah.

d. Uterus

Uterus disebut pula glandula kerabang telur yang panjangnya 10 cm, pada bagian mi terjadi dua phenomena yaitu hidratasi putih telur atau plumping kemudian terbentuk karabang telur. Warna dari kerabang telur yang terdiri dari sel phorphirin akan terbentuk di bagian ini pada akhir dari mineralisasi kerabang telur. Lama mineralisasi antara 20-21 jam.

e. Vagina

Bagian ini hampir dikatakan tidak terdapat sekresi di dalam pembentukan telur. Telur melewati vagina dengan cepat yaitu sekitar 3 menit, kemudian telur dike-luarkan (oviposttiori) dan 30 menit setelah peneluran akan terjadi kembali ovulasi.

f. Kloaka

Kloaka adalah bagian ujung luar dari oviduk tempat dikeluarkannya telur. Total waktu yang diperlukan untuk pembentukan sebutir telur adalah 25-26 jam. Inilah salah satu penyebab mengapa ayam tidak mampu bertelur 2 lebih dari satu butir/hari. Disamping itu saluran reproduksi ayam betina bersifat tunggal, artinya hanya oviduk bagian kiri saja yang mampu berkembang. Padahal ketika ada benda asing seperti yolk dan gumpalan darah menyebabkan tidak terjadinya ovulasi. Proses pengeluaran telur ini diatur oleh hormon oksitosin dari pituitaria bagian belakang (pituitaria pars posterior) .......


Untuk melihat lebih lanjut mengenai pembahasan Makalah Organ Reproduksi Ternak Betina bisa dilihat di preview makalah di bawan dan juga bisa mendownload makalah tersebut dengan format pdf dengan mengklik button unduh disini.




OrganReprouksi.pdf
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© Note-Student | Share Science
Posts RSSComments RSS
Back to top