Kamis, 12 Januari 2017

Tinjauan Pustaka Anatomi Fungsional Organ Reproduksi Jantan dan Betina



1.2              Tinjaun Pustaka
1.2.1        Organ Reproduksi Jantan
Organ kelamin jantan umumnya mempunyai bentuk yang hampir bersamaan, terdiri dari testis yang terletak di dalam skrotum, saluran-saluran organ kelamin, penis, dan kelenjar asesoris. Organ kelamin jantan dibagi menjadi organ kelamin primer berupa testis, dan organ kelamin sekunder berbentuk saluran-saluran yang menghubungkan testis dengan dunia luar yaitu ductus eferens, epididimis, ductus deferens, dan penis yang di dalamnya terdapat uretra, dipakai untuk menyalurkan air mani dan cairan asessoris keluar pada waktu ejakulasi (Hardjopranjoto, 1995).
1.      Testis
Organ primer jantan disebut testis. Struktur kecil yang berbentuk oval ini tersokong dalam suatu pounch yang menyerupai kantong yang disebut skrotum. Testis terdapat sejumlah lobus-lobus yang berdesakan, masing-masing mengandung tubulus seminiferus yang berbelit-belit. Sel-sel sertoli ditemukan sepanjang tubulus, tempat di mana sperma tumbuh. Tubulus ini juga menyekresikan sebagian besar cairan seminalis, atau semen, yang merupakan organ transportasi sperma. Sel-sel interstisial testis merupakan sumber dari hormon testosteron (Hamilton, 1995).  Dalam tubuli seminiferi terjadi pembentukan sperma atau spermatogonium dan sel pemberi nutrisi pada spermatozoa adalah sel sertoli.
Testes (testikel) agak bervariasi dari spesies ke spesies dalam hal bentuk, ukuran dan lokasi, tetapi struktur dasarnya adalam sama. Masing-masing testis terdiri dari banyak sekali tubulus seminiferus yang dikelilingi oleh kapsul berserabut atau trabekula melintas masuk dari tunika albuginea untuk membentuk kerangka atau stroma, untuk mendukung tubulus seminiferus. Trabekula bergabung membentuk korda fibrosa, yaitu mediastinum testis (Frandson, 1992).
Testis dilindungi oleh kulit abdominal bagian luar yang disebut scrotum. Scrotum berfungsi sebagai termoregulator mengatur suhu testis agar tetap terjaga dalam suhu yang normal agar sperma tidak rusak. Pada saat suhu testes dingin terjadi kontraksi yaitu mendekatnya ke dinding tubuh dan saat suhu panas terjadi relaksasi yaitu menjauhnya  testes dari suhu tubuh.
Sel leydig adalah sel diantara sel sertoli. Fungsi sel ini adalah memberikan respon FSH dengan mensintesa dan mensekresi testosteron dalam pola yang tergantung pada dosis. Selain reseptor LH, ditemukan pula reseptor prolaktin dan inhibin di dalam sel Leydig. Prolaktin dan inhibin memfasilitasi aktivasi stimulasi yang dilakukan oleh LH pada produksi testosteron, namun keduanya tidak bisa melakukannya sendiri-sendiri (Widjanarko, 2011). 
2.      Epididimis
            Epididimis ialah suatu struktur seperti selang yang berbelit-belit dan membentuk tanda koma serta memiliki panjang  sekitar 6 meter. Kepala epididimis menutupi aspek superior testis sementara bagian badan dan ekor epididimis terletak di aspek posterolateralis testis. Fungsi epididimis ialah untuk menyimpan dan mentranspor sperma. Sperma yang belum matang dari testis memasuki epididimis, menjadi motil dan fertil selama perjalanan 20 hari. Selama ejakulasi, otot polos di dinding epididimis berkontraksi dan sperma akan dikeluarkan ke dalam ductus deferens (Henderson and Kathleen, 1997).
            Epididimis terdiri dari bagian caput (kepala), corpus (bagan), dan cauda (ekor). Fungsi caput dan cauda epididimidis adalah maturasi  spermatozoa, dan transit spermatozoa. Cauda epidisimidis berfungsi sebagai tempat penampunngan sperma sementara sebelum diejakulasikan.
3.      Vas Defferens
            Vas Defferens (Ductus deferens) merupakan kelanjutan dari ductus epididimis yang setelah membuat lengkung tajam pada ujung ekor, kemudian berlanjut lurus membentuk ductus deferens. Ujung terminal ductus deferens membentuk ampula, mengandung kelenjar tubuloalveolar bercabang sederhana dalam propria-submukosa (Dellman dan Brown, 1992). Urethra merupakan sebuah saluran tunggal yang membentang dari persambungan dengan ampulla sampai ke pangkal penis. Fungsi urethra adalah sebagai saluran kencing dan semen.
4.      Kelenjar Tambahan (Aksesoris)
Kelenar tambahan pada organ reproduksi sapi betina terdiri dari kelenjar vesikula, kelenjar prostata dan kelenjar cowper.
Sekresi kelenjar vesicula dapat diperoleh dengan mudah postmortem dan merupakan suatu cairan keruh dan lengket. Sekresi tersebut mengandung protein, kalium, asam sitrat, fruktosa dan beberapa enzim dalam konsentrasi yang tinggi yang berwarna kuning karena mengandung flavin dengan pHnya berkisar antara 5,7 sampai 6,2 (Hafez, 1993).
   Kelenjar prostata. Kelenjar prostata pada sapi berjumlah sepasang, berbentuk bulat dan tidak berlobus. Kelenjar prostata terdiri dari dua bagian, bagian badan prostata dan bagian prostata yamg cryptik. Sekresinya benyak mengandung ion anorganik (Na, Cl, Ca, Mg). Sekresi kelenjar prostata pada sapi sangat encer dan mempunyai pH yang basa (7,5 sampai 8,2) (Widayati et.al., 2008).
Kelenjar cowperi terdapat sepasang, yang berbentuk bundar, kompak, berselubung tebal dan pada sapi sedikit lebih kecil dari pada kelenjar cowperi kuda yang berukuran panjang 1,5 sampai 2 cm dan tinggi 2,5 sampai 5 cm. Kelenjar tersebut terletak di atas urethra yang terletak didekat jalan keluarnya cavum pelvis. Saluran sekretoris dari setiap kelenjar bergabung membentuk satu saluran ekskretoris yang panjangnya 2 sampai 3 cm. Kedua saluran ekskretoris pada kelenjar cowperi  mempunyai muara kecil terpisah di tepi lipatan mukosa urethra (Nuryadi, 2000). Sekresi kelenjar bulbouretheralis pada cairan semen hanya sedikit sedangkan pada sapi, sekresi kelenjar bulbourethralis membersihkan sisa-sisa urine yang ada dalam urethra sebelum terjadi ejakulasi (Nuryadi, 2000).
5.      Penis
Struktur internal penis merupakan jaringan erektil yang terdiri dari sinus-sinus darah yang dipisahkan oleh lembaran jaringan pengikat yang disebut septa, yang berasal dari tunica albuginea, kapsula berserabut di sekitar penis. Penis mempunyai saraf untuk memanjang dan memendekkan penis yang dilengkapi dengan muscular retractor penis yaitu otot yang dapat merelaks dan mengkerut (kontraksi). Bagian ujung penis disebut gland penis yang diselimuti ileh praeputium. Selain itu terdapat corpus cavernosum penis yaitu otot yang dapat menegangkan penis dan corpus cavernosum urethra yaitu saluran keluarnya urin (Frandson, 1992).
            Perbedaan antara organ reproduksi jantan sapi dan domba terletak pada ukuran orang-organ reproduksinya. Ukursan organ reproduksi sapi lebih besar daripada organ reproduksi domba. Pada bagian penis sapi memiliki glans penis agak gepeng dan lancip. Domba memiliki glans penis kecil dan urethranya sebagian dapat keluar dari glans penis, bagian urethra ini disebut dengan processus urethralis. Saat domba mulai terangsang dan semen akan diejakulasikan maka processus urethralisnya bergetar dengan cepat dan semen disemprotkan ke dalam vagina secara merata.
1.2.2        Organ Reproduksi Betina
Organ reproduksi betina terbagi menjadi beberapa bagian, yang tersusun  dan bekerja sama secara kompleks hingga membentuk suatu kesatuan kerja sehingga dapat digunakan dalam proses reproduksi dan menghasilkan keturunan untuk mempertahankan kelangsungan hidup suatu spesies. Organ reproduksi betina terdiri dari beberapa bagian diantaranya adalah Ovarium, Tuba Falopii (Oviduk), Uterus, Serviks, Vagina, dan Vulva.
1.      Ovarium
Ovarium atau gonad merupakan bagian alat kelamin yang utama, ovarium menghasilkan telur, oleh karena itu dalam bahasa Indonesia seringkali disebut induk telur. Ovarium sapi pada umumnya berbentuk oval besarnya kira-kira sebesar biji kacang tanah sampai sebesar buah pala. Diameternya 0,75 cm sampai 5 cm. Ovarium kanan umumnya lebih besar dari ovarium kiri yang disebabkan karena fisiologik ovarium kanan lebih aktif daripada yang kiri (Partodihardjo, 1980).
Ovarium sendiri terdiri dari medula ovary dan cortex covary. Medula ovary merupakan tenunan pengikat yang kaya pemuluh darah dan cortex ovary berfungsi sebagai tempat folikulogenesis. Ovarium terdapat selaput-selaput yang berfungsi untuk menggantung ovariumnya yang bernama mesovarium.
2.      Tuba Fallopii (Oviduk)
Tuba fallopi juga dikenal dengan istilah oviduct (saluran telur) dan kadang-kadang disebut tuba uterina. Saluran ini terdapat pada setiap sisi uterus dan membentang daricornu uteri ke arah dinding lateral pelvis (Farrer, 1996). Oviduct bersifat bilateral, strukturnya berliku-liku yang menjulur dari daerah ovarium ke cornu uteri dan menyalurkan ovum, spermatozoa dan zigot. Tiga segmen tuba uterina dapat dibedakan, yakni infundibulum (berbentuk corong besar), ampulla (bagian berdinding tipis yang mengarah ke belakang dari infundibulum, dan isthmus (segmen berotot yang berhubungan langsung dengan uterus (Dellman and Brown, 1992).
3.      Uterus
Uterus merupakan suatu struktur saluran muskuler yang diperlukan untuk penerimaan ovum yang telah dibuahi, nutrisi dan perlindungan fetus, dan stadium permulaan eksplusi fetus pada waktu kelahiran. Uterus pada mamalia terdiri dari corpus, serviks dan dua tanduk atau cornua. Proporsi relative masing-masing bagian ini demikian pula bentuk dan susunan akan berbeda-beda pada setiap spesies sebagaimana organ-organ internal berongga pada umumnya dinding uterus terdiri dari selaput mukosa dibagian dalam, selapis otot licin dibagian tengah, dan selapis serosa dibagian luar ialah peritorneum (Lestari, Damayanti. 2014).
Uterus terdiri dari cornua uteri yang berfungsi sebagai tempat menempelnnya zigot, corpus uteri yang berfungsi sebagai tempat deposisi semen waktu Inseminasi buatan. Corpus dan cornua memiliki struktur yang sama yaitu terdiri dari myometrium, endometrium, dan perimetrium. Serviks uteri adalah serviks menonjol ke dalam vagina melalui dinding anteriornya,dan bermuara ke dalamnya berupa ostium eksternum.  Saluran serviks bernama canalis cervikalis dibentuk oleh cincin-cincin bernama annulus cervikalis yang berfungsi sebagai penghalau organisme jahat yang akan menuju ke uterus. Uterus memiliki selaput yang berfungsi sebagai menempelnya uterus yaitu meso metrium.
4.      Vagina
Vagina adalah bagian saluran peranakan yang terletak di dalam pelvis di antara uterus (arah cranial) dan vulva (caudal). Vagina juga berperan sebagai selaput yang menerima penis dari hewan jantan pada saat kopulasi (Frandson, 1992). Vagina adalah organ kelamin betina dengan struktur selubung muskuler yang terletak di dalam rongga pelvis dorsal dari vesica urinaria dan berfungsi sebagai alat kopulatoris dan sebagai tempat berlalu bagi fetus sewaktu partus (Feradis, 2010).
Fungsi vagina adalah sebagai tempat peletakan semen saat kawin alam dan juga sebagai tempat perkawinan.  
5.      Vulva
Vulva merupakan bagian terluar dari organ reproduksi betina. Alat kelamin luar terbagi atas vestibulum dan vulva. Vestibulum  merupakan  bagian  dari  saluran  kelamin betina  yang  berfungsi  sebagai  saluran  reproduksi  dan  urinaria. Pada vulva terdapat bulu-bulu halus, vulva berfungsi sebagai tempat masuknya penis ternak jantan (Wodzicka et all,. 1991).
            Perbedaan organ reproduksi betina pada sapi dan domba hanya terdapat  pada besar kecilnya organ. Organ reproduksi sapi lebih besar dari organ reproduksi domba betina tetapi semua organ-organnya sama.

1.2.3        Organ Reproduksi Ayam Jantan
Organ reproduksi ayam jantan terdiri dari testis, vas defferens dan organ kopuasi.
1.      Testis
            Testis berjumlah sepasang terletak pada bagian atas di abdominal kearah punggung pada bagian anterior akhir dari ginjal dan berwarna kuning terang.  Berbeda  dengan  hewan  lainnya,  testis  unggas  tidak  terletak  di dalam skrotum (Nesheim et al., 1979). Fungsi testis menghasilkan hormon kelamin jantan disebut androgen dan sel gamet jantan disebut sperma (Nalbandov, 1990).  Berat dari pasangan   sekitar 14 gram, dan masing – masing memiliki berat 7 gram.
                        Testis pada unggas berbentuk bulat seperti kacang, terletak ventral dari lobus anterior ginjal. Ukuran testis tidak selalu konstan, karena menjadi besar pada saat musim kawin. Bagian kiri sering lebih besar dari bagian kanan. Pinggir medial testis sedikit konkaf dan mempunyai penjuluran kecil pipih yang dianggap sama seperti epididimis pada mammalia.
2.      Vas Defferens
Jumlahnya  sepasang,  pada  ayam  jantan  muda  kelihatan  lurus  dan  pada ayam jantan tua tampak berkelok-kelok. Letak ke arah kaudal, menyilang ureter dan bermuara pada kloaka sebelah lateral urodeum. Saluran deferens dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian atas yang merupakan muara sperma dari testis, serta bagian bawah yang merupakan perpanjangan   dari   saluran  epididimis  yang  disebut  saluran  deferens. Saluran deferens ini akhirnya bermuara di kloaka pada daerah proktodeum yang berseberangan dengan urodium dan koprodeum.
Fungsi vas defferens sebagai tempat utama penyimpanan sperma, tempat pematangan sperma, dan sebagai organ penyalur sperma dari testes ke papila.
3.      Alat kopulasi
Alat kopulatoris ayam terdiri dari dua papillae dan organ kopulatoris yang rudimenter. Organ kopulatoris rudimenter berkembang dan bersifat erektil pada itik dan angsa. Alat rudimenter inilah yang diobservasi dalam penentuan kelamin anak ayam berumur satu hari (Fifi afiati, dkk. 2013).
1.2.4        Organ Reproduksi Ayam Betina
Organ reproduksi ayam betina ini pada dasarnya terbagi menjadi dua yaitu ovarium dan oviduk, namun bagian dari oviduk ini terbagi menjadi lima bagian yaitu infundibulum, magnum, isthmus, uterus, vagina, kloaka.
1.      Ovarium
Ovarium terletak pada daerah kranial ginjal diantara rongga dada dan rongga perut pada garis punggung sebagai penghasil ovum. Ovarium sangat kaya akan kuning telur atau yang disebut yolk. Ovarium terdiri atas dua lobus besar yang banyak mengandung folikel-folikel (Nalbandov, 1990).
2.      Oviduk
-          Infundibulum
Infundibulum berbentuk seperti corong atau fimbria dan menerima telur yang telah diovulasikan. Pada bagian kalasiferos merupakan tempat terbentuknya kalaza yaitu suatu bangunan yang tersusun dari dua tali mirip ranting yang bergulung memanjang dari kuning telur sampai ke kutub-kutub telur (Nalbandov 1990). Infundibulum berfungsi sebagai tempat fertilisasi kuning telur
-          Magnum
Magnum Merupakan bagian yang terpanjang dari oviduk yaitu 33 cm dan magnum tersusun dari glandula tubuler yang sangat sensibel dimana sintesa dan sekresi putih telur terjadi di sini. Mukosa dari magnum tersususun dari sel gobelet. Sel gobelet mensekresikan putih telur kental dan cair. Kuning telur berada di magnum untuk dibungkus dengan putih telur selama 3,5 jam (Tri, 2004). Fungsi magnum adalam pembentukan putih telur.
-          Isthmus
Berfungsi  mengsekresikan membran atau selaput telur. Panjang dari saluran isthmus adalah 10 cm dan telur berada di sini antara 1 jam 15 menit sampai 1,5 jam. Isthmus bagian depan yang berdekatan dengan magnum berwarna putih sedangkan 4 cm terakhir dari isthmus mengandung banyak pembuluh darah sehingga memberikan warna merah (Tri, 2004).
-          Uterus
Uterus disebut pula glandula kerabang telur yang panjangnya 10 cm, pada bagian mi terjadi dua phenomena yaitu hidratasi putih telur atau plumping kemudian terbentuk karabang telur. Warna dari kerabang telur yang terdiri dari sel phorphirin akan terbentuk di bagian ini pada akhir dari mineralisasi kerabang telur. Lama mineralisasi antara 20-21 jam. Pada uterus berfungsi sebagai tempat pembentukan kerabang telur dan deposisi telur.
-          Vagina
Telur masuk ke bagian vagina setelah pembentukan oleh kelenjar kerabang sempurna (di dalam uterus). Pada vagina telur hanya dalam waktu singkat dan dilapisi oleh mucus yang berguna untuk menyumbat pori-pori kerabang sehingga invasi bakteri dapat dicegah. Kemudian telur dari vagina keluar melalui kloaka (Nalbandov, 1990). Fungsi vagina disamping yang dikemukakan Nalbaldov, vagina berfungsi sebagai tempat pewarnaan kerabang telur.
-          Kloaka

Kloaka adalah bagian ujung luar dari oviduk tempat dikeluarkannya telur. Total waktu yang diperlukan untuk pembentukan sebutir telur adalah 25-26 jam. Inilah salah satu penyebab mengapa ayam tidak mampu bertelur 2 lebih dari satu butir/hari. Disamping itu saluran reproduksi ayam betina bersifat tunggal, artinya hanya oviduk bagian kiri saja yang mampu berkembang (Tri, 2004). 


DAFTAR PUSTAKA

Isnaeni, W. 2006. Fisiologi Hewan. Penerbit Kanisius: Yogyakarta.

Frandson, R.D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak Edisi Keempat. Gadjah MadaUniversity Press:                    Yogyakarta.

Hamilton, P.M. 1995. Dasar-Dasar Keperawatan Maternitas. Penerbit Buku Kedokteran EGC:                          Jakarta.

Hardjopranjoto, S. 1995. Ilmu Kemajiran Ternak. Airlangga University Press. Surabaya.

Dellman, H. D. dan E. M. Brown. 1992. Buku Teks Histologi Veteriner. Penerbit Universitas                              Indonesia. Jakarta.

Wahyuni, S., Srihadi A., Muhammad A., Tuty L.Y. 2012. Histologi dan Histomofetri Testis dan                         Epididimis Muncak (Muntiacus muntjak muntjak) pada Periode Ranggah Keras. Jurnal                       Veteriner. Bogor. Vol 13 No 3 : 211-219.

Hafez, E.S.E. 1993. Reproduction in Farm Animals edisi ke-7. Lea and Febiger: Philadelphia.

Partodihardjo, S. 1980. Ilmu Reproduksi Hewan. Penerbit Mutiara: Jakarta.

Farrer, Helen. 1996. Perawatan Maternitas. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta.

Lestari, Tita Damayanti & Ismudiono. 2014. Ilmu Reproduksi Ternak. Airlangga    University Press :                   Surabaya.
Feradis. 2010. Reproduksi Ternak. Penerbit Alfabeta: Bandung.

Wodzicka, M, I.K. Sutama, I. G. Putu, T.G. Chaniago. 1991. Reproduksi, Tingkah laku dan Produksi                   Ternak Di Indonesia. Penerbit Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

Sobah. 2014. Laporan Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak Acara Anatomi Betina.                                              http://nurussobah.web.ugm.ac.id/ (Diakses pada Hari Minggu, 02 Oktober 2016 Pukul 15:00                WIB).

Nesheim, M.C., R.E. Austic dan L.E. Card. 1979. Poultry Production. 12th ed. Lea and Febiger:                      Philadelphia.

Nalbandov, A.V. 1990. Fisiologi Reproduksi Pada Mamalia dan Unggas. UGM Press: Yogyakarta.

Afiati, Fifi. dkk.  2013. Pembibitan ternak dengan Inseminasi Buatan. Penerbit Penebar Swadaya:                   Jakarta.
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© Note-Student | Share Science
Posts RSSComments RSS
Back to top