Selasa, 07 Februari 2017

Aplikasi Dan Inovasi Teknologi Transfer Embrio (TE) Untuk Pengembangan Ternak - Makalah Genetika




I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Permasalahan yang dihadapi dalam bidang peternakan di Indonesia antara lain adalah masih rendahnya produktifitas dan mutu genetik ternak. Keadaan ini terjadi karena sebagian besar peternakan di Indonesia masih merupakan peternakan konvensional, dimana mutu bibit, penggunaan teknologi dan keterampilan peternak relatif masih rendah. 

Penerapan teknologi transfer embrio (TE) atau alih janin merupakan alternatif untuk meningkatkan populasi dan mutu genetik sapi secara cepat. Teknologi TE pada sapi merupakan generasi kedua bioteknologi reproduksi setelah inseminasi buatan (IB). Pada prinsipnya teknik TE adalah rekayasa fungsi alat reproduksi sapi betina unggul dengan hormon superovulasi sehingga diperoleh ovulasi sel telur dalam jumlah besar. Sel telur hasil superovulasi ini akan dibuahi oleh spermatozoa unggul melalui teknik IB sehingga terbentuk embrio yang unggul. Embrio yang diperoleh dari ternak sapi donor, dikoleksi dan dievaluasi, kemudian ditransfer ke induk sapi resipien sampai terjadi kelahiran.
Berdasarkan uraian diatas, dapat diketahui bahwa penjelasan mengenai materi transfer embrio (TE) sangatlah penting bagi mahasiswa peternakan. Sehingga kelompok kami membuat tulisan dalam bentuk makalah supaya penjelasannya lebih mendalam dan lebih jelas lagi.  

1.2 Identifikasi Masalah

1) Apa pengertian embrio transfer?
2) Bagaimana sejarah embrio transfer?
3) Bagaimana perbedaan transfer embrio secara in vitro dan in vivo?
4) Bagaimana prosedur pelaksanaan transfer embrio?
5) Bagaimana teknik transfer embrio pada ternak?

1.3 Tujuan Penulisan

1) Mengetahui pengertian embrio transfer.
2) Mengetahui sejarah embrio transfer.
3) Mengetahui perbedaan transfer embrio secara in vitro dan in vivo.
4) Mengetahui prosedur pelaksanaan transfer embrio.
5) Mengetahui teknik transfer embrio pada ternak.


II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Embrio Transfer

Transfer Embrio (TE) adalah merupakan bioteknologi reproduksi kedua setelah Insseminasi Buatan (IB). kegiatan TE dimulai dari produksi, distribusi/penyebaran, dan transfer embrio. Embrio sebagai hasil pembuahan sel telur yang unggul dan dibuahi dengan sperma dari pejantan yang juga memiliki mutu genetic unggul (Nurwidayati, 2011). 

Transfer embrio adalah suatu metode buatan dalam perkawinan dengan cara membentuk embrio dari seekor betina induk unggul, yang disebut donor, kemudian dipindahkan dan dicangkokkan ke dalam saluran reproduksi induk betina lainnya dalam spesies yang sama, yang disebut resipien (Bedirian, dkk,. 1975).

Produksi embrio dapat dilakukan secara in vivo dan in vitro. Dalam teknik in vivo, hewan betina donor akan menjalani superovulasi, yakni penyuntikan hormone gonadotropin (FSH, PMSG/CG atau HMG) guna melipat gandakan produksi sel telur. Sel-sel telur yang diovulasikan tersebut, setelah mengalami pembuahan dan berkembang menjadi embrio ditampung atau dikoleksi untuk kemudian ditransfer pada betina resipien.

2.2 Sejarah Embrio Transfer

Sejarah Transfer embrio dimulai pada tahun 1890 dengan dilakukannya teknik Transfer Embrio pada Kelinci yang dilakukan oleh Heape.  Kemudian pada tahun 1951 Willet dari USA mencoba melakukan TE pada Sapi dengan memanfaatkan embrio dari Rumah Potong Hewan (Darodjah, S, R., 2011).

Pada tahun 1960 berhasil dilaksanakan koleksi embrio dan sekaligus transfer embrio dengan cara teknik abdominal  surgery.  Selanjutnya tahun 1965 salah seorang peneliti dari Jepang yaitu Prof. Sugie berhasil melaksanakan teknik By Pass Method yaitu merupakan teknik non surgery method. Pada tahun 1970 teknik TE mulai dikomersialkan di USA yang dilanjutkan akhir tahun 1970 teknik TE dengan non surgery method dengan recovery 6 transfer diterapkan di lapangan. Awal tahun 1980 Bilton telah berhasil melakukan freezing embrio, dan pada tahun 1989 telah lahir lebih dari 10000 Calf (anak sapi) di USA dan pada saat itu teknik TE dimulai di negara-negara berkembang (Darodjah, S, R., 2011).

Pada tahun 1984 telah dilaksanakan program TE di Indonesia atas prakarsa Mentri Koperasi dan Kepala Bulog saat itu yaitu Bustanil Arifin, di peternakan sapi Cicurug Sukabumi.  Saat itu pelaksanaan program TE tersebut dibawah koordinasi team TE dari USA (Granada Texas) dengan teknik pembedahan (surgery) pada fossa para lumbal (Darodjah, S, R., 2011).

2.3 Transfer Embrio Secara In Vitro Dan In Vivo

Prinsip dasar dari transfer embrio meliputi beberapa treatmen/perlakuan dengan menggunakani teknik-teknik lainnya, yaitu superovulasi, oestrus synchronization (Sinkronisasi Birahi), artificial insemination (Inseminasi Buatan), embrio/eggs recovery (Pengumpulan atau pemanenan embrio) dan embrio/eggs transfer (Pemindahan embrio). Sebelum dilakukan transfer, dilakukan produksi embrio. Produksi embrio terdiri dari 2 cara yaitu produksi embrio in vivo dan produksi embrio in vitro.  

2.3.1 Produksi embrio secara In Vivo

Produksi embrio secara in vivo juga dikenal dengan teknologi Multiple Ovulation Embrio Transfer (MOET). Teknologi ini sudah sangat luas diaplikasikan dalam dua dasawarsa terakhir ini seperti di Eropa, Amerika, Jepang, Australia dan negara maju lainnya. Tujuan dari teknologi ini adalah untuk menghasilkan embrio yang banyak dalam satu kali siklus. Hal ini dapat dicapai dengan penyuntikan hormon gonadotrophin (FSH, PMSG) secara intra muscular pada siklus berahi hari ke 10. Penyuntikan PMSG dilakukan satu kali penyuntikan sedang FSH diberikan umumnya 2 x sehari dengan interval waktu 12 jam selama 3-5 hari pemberian. Secara umum dilaporkan jumlah embrio yang tertampung lebih tinggi dengan pemberian FSH dibanding PMSG (Polmer, S, dkk,. 2004).

Produksi embrio in vivo dilakukan dengan cara mengambil atau memanen embrio yang terdapat di dalam uterus (rahim) sapi betina donor (penghasil embrio), kemudian dipindahkan pada sapi betina yang lain (betina resipien) atau untuk disimpan dalam keadaan beku (freeze embryo). Untuk memperbanyak embrio yang dipanen, maka pada sapi-sapi betina donor biasanya dilakukan teknik superovulasi, yaitu suatu perlakuan menggunakan hormon untuk memperoleh lebih banyak sel telur (ovum) pada setiap periode tertentu. Sehingga dengan demikian, seekor betina donor yang telah disuperovulasi dan kemudian dilakukan inseminasi (memasukkan sel benih jantan pada uterus menggunakan alat tertentu), akan menghasilkan banyak embrio untuk dipanen.

2.3.2 Produksi embrio secara In Vitro

Produksi embrio secara in vitro mencakup 3 aspek utama yaitu pematangan sel telur (IVM), pembuahan sel telur (IVF) dan pembiakan embrio (IVC) secara in vitro. Teknologi IVM/IVF/IVC sudah berkembang dengan pesat, seperti yang telah dilaporkan oleh Kanagawa, dkk., (1995). Kelahiran dari hasil fertilisasi in vitro ini berturut-turut terjadi pada kelinci (1958), mencit (1968), tikus (1974), manusia (1978), sapi (1982), babi (1986) dan domba (1986). Sel telur umumnya didapat dari ovari.

Sel telur umumnya didapat dari ovari berasal dari rumah potong hewan. Sel telur dikumpulkan dengan metode aspirasi maupun slising, secepatnya setelah sapi dipotong kemudian dimatangkan secara in vitro. Pematangan dilakukan pada media sederhana sampai yang kompleks yang umumnya mengandung hormon estrogen, FSH, LH , prolactin, progesteron ataupun protein ovari dan peptida (Gordon, 1994). Hormon yang yang paling umum digunakan saat ini adalah FSH, estrogen dan LH.

Secara umum teknologi pematangan, pembuahan dan pembiakan untuk tujuan memproduksi embrio secara in vitro sudah sangat tersedia dan bukan lagi merupakan hambatan untuk penerapan secara luas.  Walaupun didapat variasi persentase blastosist yang disebabkan perbedaan metode pematangan, pembuahan dan pembiakan secara keseluruhan rataan persentase blastosist adalah  30−50%. 

Hambatan yang masih ada adalah ketersediaan sel telur baik secara kwantitatif maupun kwalitatif di dalam negeri (Indonesia). Untuk itu sumber sel telur dari negara yang sudah maju antara lain Australia Selandia Baru, Amerika maupun Eropa perlu dipikirkan. Hal ini sangat memungkinkan dilakukan pada era globalisasi ini dengan modifikasi teknologi pematangan (Triwulanningsih, dkk,. 2003).

Produksi embrio in vitro dilakukan dengan cara  melakukan fertilisasi antara sel benih jantan (spermatozoa) dengan sel benih betina (ovum) dalam laboratorium, sehingga disebut pembuahan di luar tubuh. Salah satu alat yang digunakan untuk proses ini adalah cawan petri atau tabung khusus. Sel telur didapatkan dengan cara mengambil sel-sel telur yang terdapat pada indung telur (ovarium) sapi-sapi betina yang telah dipotong di rumah potong hewan.  Setelah diperoleh banyak sel telur, kemudian dilakukan pencucian dengan larutan khusus, selanjutnya dilakukan pemilihan sel telur yang masih baik dan ditempatkan dalam cawan petri. Pembuahan akan berlangsung jika pada cawan yang berisi sel-sel telur tadi ditempatkan sel benih jantan (spermatozoa yang masih hidup).  

2.4 Tahap Pelaksanaan Transfer Embrio
Menurut Herdis, dkk (2011) Keberhasilan TE dipengaruhi oleh kondisi sapi donor, sapi resipien, kualitas embrio yang dihasilkan dan pelaksanaan TE dari donor ke resipien. Berikut tahapan prosedur embrio transfer secara in vivo:

1. Seleksi Sapi Donor dan Sapi Resipien

Sapi yang digunakan sebagai ternak donor harus mempunyai kriteria Memiliki genetik unggul, Memiliki kemampuan reproduksi, Keturunannya memiliki nilai pasar.
Sapi yang digunakan untuk resipien sebaiknya mempunyai umur yang masih muda terutama sapi dara (belum pernah bunting). Sapi resipien tidak harus mempunyai mutu genetik yang baik dan berasal dari bangsa yang sama, tetapi harus mempunyai organ dan siklus reproduksi normal, tidak pernah mengalami kesulitan melahirkan (distokia), sehat serta bebas dari infeksi saluran kelamin.

2. Super Ovulasi

Sapi merupakan ternak uniparous, dimana sel telur yang terovulasi setiap siklus berahi biasanya hanya satu buah. Dalam program TE, untuk merangsang terjadinya ovulasi ganda, maka diberikan hormon superovulasi sehingga diperoleh ovulasi sel telur dalam jumlah besar. Hormon yang banyak digunakan untuk rekayasa superovulasi adalah hormon gonadotropin seperti Pregnant Mare Serum Gonadotripin (PMSG) dan Follicle Stimulating Hormone (FSH). Penyuntikan hormon gonadotropin akan meningkatkan perkem-bangan folikel pada ovarium (folikulogenesis) dan pematangan folikel sehingga diperoleh ovulasi sel telur yang lebih banyak.

Hormon FSH mempunyai waktu paruh hidup dalam induk sapi antara 2 - 5 jam. Pemberian FSH dilakukan sehari dua kali yaitu pada pagi dan sore hari selama 4 hari dengan dosis 28 - 50 mg (tergantung berat badan). Perlakuan superovulasi dilakukan pada hari ke sembilan sampai hari ke 14 setelah berahi.

3. Penyerentakan Berahi

Penyerentakan berahi atau sinkronisasi estrus adalah usaha yang bertujuan untuk mensinkronkan kondisi reproduksi ternak sapi donor dan resipien. Sinkronisasi estrus umumnya menggunakan hormon prostaglandin F2a (PGF2 α) atau kombinasi hormon progesteron dengan PGF2 α. Prosedur yang digunakan adalah :

- Ternak yang diketahui mempunyai corpus luteum (CL), dilakukan penyuntikan PGF2a satu kali. Berahi biasanya timbul 48 sampai 96 jam setelah penyuntikan.
- Apabila tanpa memperhatikan ada tidaknya CL, penyuntikan PGF2α dilakukan dua kali selang waktu 11-12 hari.

Penyuntikan PGF2α pada ternak resipien harus dilakukan satu hari lebih awal daripada donor. Keadaan ini disebabkan karena pada ternak donor yang telah diberi hormon gonadotropin, berahi biasanya lebih cepat yaitu 36 - 60 jam setelah penyuntikan PGF2α , sedangkan pada resipien berahi biasanya timbul 48 - 96 jam setelah penyuntikan PGF2α.

4. Inseminasi Buatan

IB yang baik dilaksanakan 6 sampai 24 jam setelah timbulnya berahi. Berahi pada sapi ditandai oleh alat kelamin luar (vagina) berwarna merah, bengkak dan keluarnya lendir jernih serta tingkah laku sapi yang menaiki sapi lain atau diam apabila dinaiki sapi lain. Pada program TE, IB dilakukan dengan dosis ganda dimana satu straw semen beku biasanya mengandung 30 juta spermatozoa unggul.

5. Koleksi Embrio

Koleksi embrio pada sapi donor dilakukan pada hari ke 7 sampai 8 setelah berahi. Sebelum dilakukan panen embrio, bagian vulva dan vagina dibersihkan dan disterilkan dengan menggunakan kapas yang mengandung alkohol 70%. Koleksi embrio dilakukan dengan menggunakan foley kateter dua jalur 16-20G steril (tergantung ukuran serviks). Pembilasan dilakukan dengan memasukkan medium flushing Modified Dulbecco Phosphate Buffered Saline (M-PBS) yang telah dihangatkan di dalam water bath 37oC.

6. Transfer embrio

Pada umumnya terdapat dua metode TE yang digunakan yaitu metode pembedahan dan metode tanpa pembedahan. Metode pembedahan dilakukan dengan jalan membuatan sayatan di daerah perut (laparotomi) baik sayatan sisi (flank incici) atau sayatan pada garis tengah perut (midle incici). Metode tanpa pembedahan dilakukan dengan memasukkan embrio kedalam straw kemudian ditransfer kedalam uterus resipien dengan menggunakan cassoue gun insemination.


Untuk lebih jelas mengenai pembahasan isi Makalah Aplikasi Dan Inovasi Teknologi Transfer Embrio (TE) Untuk Pengembangan Ternak karena di atas hanya penggalan dari isi laporan, untuk lebih jelasnya bisa dilihat di preview di bawah ini dan jika ingin mendownload makalah ini dalam bentuk pdf bisa menekan button unduh disini.



Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© Note-Student | Share Science
Posts RSSComments RSS
Back to top