Kamis, 09 Februari 2017

Laporan Akhir Praktikum Nutrisi Ternak Analisis Proksimat - Bungkil Kelapa




I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

Analisis proksimat adalah suatu metoda analisis kimia untuk mengidentifikasi kandungan nutrisi seperti protein, karbohidrat, lemak dan serat pada suatu zat makanan dari bahan pakan atau pangan. Analisis proksimat adalah analisis atau pengujian kimia yang dilakukan untuk bahan baku yang akan diproses lebih lanjut dalam industri menjadi barang jadi. Analisis proksimat memiliki manfaat sebagai penilaian kualitas pakan atau bahan pangan terutama pada standar zat makanan yang seharusnya terkandung di dalamnya. Selain itu, analisis proksimat dapat digunakan untuk mengevaluasi dan menyusun formula ransum dengan baik. Mengevaluasi ransum yang telah ada seperti mencari kekurangan pada ransum tersebut kemudian kita bisa menyusun formula ransum baru dengan menambahkan zat makanan yang diperlukan.

Air merupakan kandungan yang penting dalam bahan pangan. Semua bahan pangan memiliki kandungan air dalam jumlah yang berbeda-beda baik itu bahan pangan hewani maupun nabati. Sedangkan kadar air merupakan persen air yang terkandung dalam bahan pangan. Menurut Dwijosepputro (1994) kadar air juga salah satu karakteristik yang sangat penting dalam bahan pangan,karena air dapat mempengaruhi kenampakan tekstur dan cita rasa pada bahan pangan. Kadar air dalam bahan pangan ikut menentukan kesegaran dan daya awet bahan pangan tersebut. Kadar air yang tinggi menyebabkan mudahnya bakteri,kapang,dan khamir untuk berkembang biak,sehingga akan terjadi perubahan pada bahan pangan.

Abu adalah zat anorganik sisa pembakaran dari senyawa organik (Sudarmadji, 1998). Dalam bahan pangan, selain abu terdapat pula komponen lain yaitu mineral. Walaupun jumlahnya sangat sedikit namun keberadaan mineral bahan pangan sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia. Di dalam tubuh mineral berfungsi sebagai zat pembangun dan pengantur. Mineral tertentu bahkan sangat dbutuhkan sebagai penyusun tulang, gigi,jaringan lunak, otot, darah, dan sel syaraf, dan sebagian lainnya dibutuhkan dalam pengaturan metabolism tubuh.

Protein merupakan salah satu unsur makro yang terdapat pada bahan pangan selain lemak dan karbohidrat. Protein merupakan sumber asam amino yang mengandung unsur- unsur C, H, O dan N dalam ikatan kimianya. Fungsi utama protein dalam tubuh adalah sebagai zat pembentuk jaringan baru dan mempertahankan jaringan yang sudah ada agar tidak mudah rusak.Analisis protein dalam bahan pangan dapat dilakukan dengan dua metode yaitu metode kuantitatif dan kualitatif. Kadar protein yang ditentukan berdasarkan cara Kjeldahl  disebut sebagai kadar protein kasar (crude protein) karena terikut senyawaan N bukan protein.

Lemak merupakan sekelompok besar molekul-molekul alam yang terdiri atas unsur-unsur C, H, dan O meliputi asam lemak, malam, sterol, vitamin-vitamin yang larut di dalam lemak (contohnya A, D, E, dan K), monogliserida, digliserida, fosfolipid, glikolipid, terpenoid (termasuk di dalamnya getah dan steroid) dan lain-lain. Lemak secara khusus menjadi sebutan bagi minyak hewani pada suhu ruang, lepas dari wujudnya yang padat maupun cair, yang terdapat pada jaringan tubuh yang disebut adiposa. Mengekstraksi lemak secara murni sangat sulit dilakukan, sebab pada waktu mengekstraksi lemak, akan terekstraksi pula zat-zat yang larut dalam lemak seperti sterol, phospholipid, asam lemak bebas, pigmen karotenoid, khlorofil, dan lain-lain. Pelarut yang digunakan harus bebas dari air agar bahan-bahan yang larut dalam air tidak terekstrak dan terhitung sebagai lemak dan keaktifan pelarut tersebut menjadi berkurang. Pelarut ini seperti dietil eter, hexana, benzena, dan lain-lain.

Serat kasar merupakan residu dari bahan makanan atau pertaniansetelah diperlakukan dengan asam atau alkali mendidih, dan terdiri dari selulosadengan sedikit lignin dan pentosan. Serat kasar juga merupakan kumpulan darisemua serat yang tidak bisa dicerna oleh tubuh, komponen dari serat kasar iniyaitu terdiri dari selulosa, pentosa, lignin dan komponen-komponen lainnya.

Energi bruto adalah semua panas yang bebas pada pembakaran, panas ini dihasilkan dari suatu makanan yang seluruhnya dibakar secara sempurna dengan menggunakan bomb calorimeter sehingga menghasilkan zat-zat terakhir seperti CO2, H2O, dan gas lain. Dalam menentukan energi bruto dengan oxygen bomb calorimeter menggunakan alat serta bahan yaitu unit bomb calorimeter, tabung oksigen, termometer, alat pembuat pellet, kawat platina, larutan methyl orange dan larutan Na2CO3 dan bahan pakan berupa bungkil kelapa, dedak padi, rumput raja. Peningkatan suhu yang telah diukur dengan termometer dapat dihitung energi bruto yang telah dihasilkan. Penetapan energi bruto ini terjadi pengubahan energi kimia dalam suatu sampel menjadi energi panas dan diukur jumlah panas yang dihasilkan.

1.2 Identifikasi Masalah

(1) Apa definisi dari bungkil kelapa.
(2) Berapa kandungan air pada bungkil kelapa.
(3) Berapa kandungan abu pada bungkil kelapa.
(4) Berapa kandungan protein kasar pada bungkil kelapa.
(5) Berapa kandungan lemak kasar pada bungkil kelapa.
(6) Berapa kandungan serat kasar pada bungkil kelapa.
(7) Berapa kandungan energi pada bungkil kelapa.
(8) Berapa kandungan BETN pada bungkil kelapa.

1.3 Maksud dan Tujuan

(1) Mengetahui  definisi daribungkil kelapa.
(2) Mengetahui  kandungan kadar air dalam bungkil kelapa.
(3) Mengetahui  kandungan kadar abu dalam bungkil kelapa.
(4) Mengetahui  kandungan kadar protein kasar dalam bungkil kelapa.
(5) Mengetahui  kandungan kadar lemak kasar dalam bungkil kelapa.
(6) Mengetahui  kandungan kadar serat kasar dalam bungkil kelapa.
(7) Mengetahui  kandungan kadar energi dalam bungkil kelapa.
(8) Mengetahui  kandungan kadar BETN dalam bungkil kelapa.


II
DESKRIPSI BAHAN


2.1 Definisi Bungkil Kelapa


Bungkil kelapa adalah limbah industri kelapa yang dapat dimanfaatkan ternak.Kualitas bungkil kelapa bervariasi tergantung pada carapengolahan dan mutu bahan baku. Berdasarkan komposisi kimianya, bungkil kelapa termasuk sumber protein untuk ternak.Dalam pemakaian terutama untuk monogastrik perlu diperhatikan keseimbangan asam aminonya, karena bungkil kelapa kekurangan asam amino lisin dan histidin. Bungkil kelapa bisa digunakan untuk unggas sebaiknya tidak lebih dari 20%, babi 40 -50% dan ruminansia 30% (Tim Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, 2012).

Dibandingkan dengan bungkil kelapa sawit, bungkil kelapa mempunyai protein yang tinggi.Kadar asam amino yang menjadi faktor pembatas adalah methionin, sedangkan keseimbangan asam amino lain cukup baik.

2.2 Analisa Kandungan Nutrisi Bungkil Kelapa


Klasifikasi berdasarkan kandungan gizinya bahan makanan ternak dapat dibagi atas sumber energi (misalnya dedak ubi kayu), sumber protein yang berasal dari tanaman (misalnya bungkil kedelai dan bungkil kelapa) dan sumber protein hewani (tepung darah, tepung bulu dan tepung ikan)(Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, 2012).

Kandungan nutrisi pada bungkil kelapa meliputi air, abu atau mineral, protein kasar, lemak kasar, serat kasar dan energi. Kadungan nutrisi tersebut bisa menyuplai kebutuhan gizi pada ternak sehingga ternak mempunyai produktivitas yang maksimal.


III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Air

Air adalah zat cair yang tidak mempunyai rasa, warna dan bau, yang terdiri dari hidrogen dan oksigen dengan rumus kimiawi H2O.Karena air merupakan suatu larutan yang hampir-hampir bersifat universal, maka zat-zat yang paling alamiah maupun buatan manusia hingga tingkat tertentu terlarut di dalamnya.Dengan demikian, air di dalam mengandung zat-zat terlarut. Zat-zat ini sering disebut pencemar yang terdapat dalam air (Linsley, 1991).

3.2 Analisis Air

Metode yang digunakan dalam analisis kadar air adalah dengan cara mencuci cawan alumunium. Mengeringkannya dalam oven selama 1 jam pada suhu 100 – 105oC. Mendinginkan cawan alumunium yang telah dioven pada eksikator selama 15 menit dan menimbangnya.  Menimbang sampel sebanyak ± 1 gram dan memasukkan ke dalam cawan alumunium.  Mengovennya selama 3 - 24 jam pada suhu 100 – 105 oC.  Mendinginkan sampel dan cawan alumuniumtersebut dalam eksikator selama 15 menitdan menimbangnya.  Melakukan pemanasan pada oven secara berulang sebanyak 2-3 kali sampai berat sampel benar-benar konstan.  Menghitung kadar air sampel tersebut dengan rumus :

Analisis air memiliki prinsip kerja menguapkan air yang terdapat dalam bahan pakan,pada praktikum kali ini bahan pakan yang di analisis adalah bungkil kelapa dengan oven pada suhu 100o C– 105oC dalam jangka waktu tertentu (3-24 jam) hingga seluruh air yang terdapat dalam bahan menguap atau penyusutan berat bahan tidak berubah lagi.

Kadar air dalam bahan pangan sangat mempengaruhi kualitas dan daya simpan dari bahan pangan tersebut. Oleh karena itu, penentuan kadar air dari suatu bahan pangan sangat penting agar dalam proses pengolahan maupun pendistribusian mendapat penanganan yang tepat Hafez, (2000). Defano (2000) menyatakan ditiap bahan pakan yang paling kering sekalipun,masih terdapat kandungan air walaupun dalam jumlah yang kecil.

Banyaknya kadar air dalam suatu bahan pakan dapat diketahui bila bahan pakan tersebut dipanaskan pada suhu 105⁰ C. Bahan kering dihitung sebagai selisih antara 100% dengan persentase kadar air suatu bahan pakan yang dipanaskan hingga ukurannya tetap (Anggorodi, 1994).

Bungkil Kelapa (Cocos nucifera) limbah industri kelapa yang dapat dimanfaatkan ternak terutama adalah bungkil kelapa. Kualitas bungkil kelapa bervariasi tergantung pada cara pengolahan dan mutu bahan baku. Berdasarkan komposisi kimianya, bungkil kelapa termasuk sumber protein untuk ternak.Dalam pemakaian terutama untuk monogastrik perlu diperhatikan keseimbangan asam aminonya, karena bungkil kelapa kekurangan asam amino lisin dan histidin.Bungkil kelapa bisa digunakan untuk unggas sebaiknya tidak lebih dari 20%, babi 40-50% dan ruminansia 30%.

Bungkil kelapa merupakan hasil ikutan dari industri pengolahan minyak kelapa. Meskipun bungkil kelapa sudah umum digunakan sebagai bahan penyusun ransum unggas, akan tetapi pemanfaatannya belum optimal. Hal ini disebabkan tingginya kandungan serat kasar dalam bungkil kelapa sehingga menyebabkan ketersediaan zat gizi yang rendah (Creswell dan Zainuddin, 1979).

III
TINJAUAN PUSTAKA


3.1 Abu

Abu adalah zat zat anorganik sisa hasil pembakaran suatu bahan organik. Kandungan abu dan komposisinya tergantung pada macam bahan dan cara pengabuannya.Kadar abu ada hubungannya dengan mineral suatu bahan. Mineral yang terdapat dalam suatu bahan dapat merupakan dua macam garam yaitu garam organic dan garam anorganik yang termasuk dalam garam organik, misalnya garam- garam asam mollat, oksalat, asetat dan pektat. Sedangkan garam anorganik antara lain dalam bentuk garam fosfat, karbonat, klorida, sulfat dan nitrat. Selain kedua garam tersebut, kadang- kadang mineral berbentuk sebagai senyawaan kompleks yang bersifat organis. Apanila akan ditentukan jumlah mineralnya dalam bentuk aslinya adalah sangat sulit. Oleh karena biasanya dilakukan dengan menentukan sisa pembakaran garam mineral ttersebut yang dikenal dengan pengabuan (Sudarmadji,dkk., 2003).

3.2 Analisis Abu

Jumlah abu dalam bahan pakan hanya penting untuk menentukan perhitungan bahan ekstrak tanpa nitrogen (Sutardi, 2009). Kandungan abu ditentukan dengan cara mengabukan atau membakar bahan pakan dalam tanur, pada suhu 600 - 700ºC sampai semua karbon hilang dari sampel, dengan suhu tinggi ini bahan organik yang ada dalam bahan pakan akan terbakar dan sisanya merupakan abu yang dianggap mewakili bagian inorganik makanan. Abu juga mengandung bahan organik seperti sulfur dan fosfor dari protein, dan beberapa bahan yang Mudah terbang seperti natrium, klorida, kalium, fosfor dan sulfur akan hilang selama pembakara. Kandungan abu dengan demikian tidaklah sepenuhnya mewakili bahan anorganik pada makanan baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif (Anggorodi, 2005).

Analisa kadar abu bertujuan untuk memisahkan bahan organik dan bahan anorganik suatu bahan pakan. Kandungan abu suatu bahan pakan menggambarkan kandungan mineral pada bahan tersebut. Menurut Cherney (2000) abu terdiri dari mineral yang larut dalam detergen dan mineral yang tidak larut dalam detergen Kandungan bahan organik suatu pakan terdiri protein kasar, lemak kasar, serat kasar dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN).

Karra (2007) menyatakan bahwa pemanasan di dalam tanur  adalah dengan suhu 600 – 700 ºC dan Halim (2006) menyatakan bahwa zat anorganik yang tertinggal di dalam pemanasan dengan tanur disebut dengan abu (ash). Disini, bahan pakan ternak yang paling banyak mengandung kadar abu adalah  tepung kulit kerang dengan persentase 92,9000. Ini disebabkan karena tepung kulit kerang memang terdiri bahan anorganik yang terdiri dari mineral-mineral seperti kapur.

Jumlah abu dalam bahan pakan hanya penting untuk menentukan perhitungan bahan ekstrak tanpa nitrogen (Soejono, 1990). Kandungan abu ditentukan dengan cara mengabukan atau membakar bahan pakan dalam tanur, pada suhu 400-600oC sampai semua karbon hilang dari sampel, dengan suhu tinggi ini bahan organik yang ada dalam bahan pakan akan terbakar dan sisanya merupakan abu yang dianggap mewakili bagian inorganik makanan. Namun, abu juga mengandung bahan organik seperti sulfur dan fosfor dari protein, dan beberapa bahan yang mudah terbang seperti natrium, klorida, kalium, fosfor dan sulfur akan hilang selama pembakaran. Kandungan abu dengan demikian tidaklah sepenuhnya mewakili bahan inorganik pada makanan baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif (Anggorodi, 1994).

III
TINJAUAN PUSTAKA


3.1 Protein Kasar

Protein adalah zat organik yang mengandung karbon hidrogen, nitrogen, oksigen, sulfur, dan fosfor. Zat tersebut merupakan zat makan utama yang mengandung nitrogen(Anggorodi, 1994). Molekul protein adalah sebuah polimer dari asam asam amino yang digabungkan dengan ikatan-ikatan peptide. Biasanya berat molekul protein adalah tinggi, protein mungkin saja mempunyai berat molekul 10.000 atau kurang dan terdiri atas asam-asam amino atau kurang zat-zat ini lebih tepat disebut polipeptida (Hernaman, 2015).

Protein dalam bahan makanan, termasuk dalam zat-zat yang mengandung nitrogen. Untuk mengetahui kadar protein dari bahan makanan tersebut perlu ditentukan kadar nitrogennya secara kimiawi. Kemudian angka tersebut dikalikan dengan faktor 6,25. Faktor tersebut digunakan karena zat nitrogen mewakili kurang lebih 16% dari protein (Anggorodi, 1994).

3.2 Analisis Protein Kasar

Proses oksidasi dilakukan dalam labu kjeldahl dengan cara memanaskan bahan tersebut dengan asam sulfat pekat untuk membentuk CO2 dan air untuk melepaskan N sebagai amonia. Amonia dalam larutan asam sulfat terdapat sebagai amonium sulfat tetapi CO2 dan airnya terus menguap (Anggorodi, 1994).

Proses penyulingan dilakukan setelah larutan menjadi jernih dan berwarna hijau, labu destruksi dididihkan dan larutan dimasukan kedalam labu penyuling dan kemudian diencerkan dengan ±300 ml air. Penyulingan terus dilakukan hingga semua N dari cairan tertangkap oleh H2SO4  yang terdapat dalam labu erlenmeyer (Anggorodi, 1994).

Labu erlenmeyer yang berisi sulingan diambil dan kelebihan H2SO4 yang digunakan untuk menangkap N dititrasi dengan NaOH yang mempunyai titran tertentu (Anggorodi, 1994).

Fungsi-fungsi protein dalam tubuh yaitu membangun dan menjaga atau memelihara protein jaringan dan organ tubuh, menyediakan asam-asam amino makanan, menyediakan energi dalam tubuh, menyediakan sumber lemak badan, menyediakan sumber gula darah, sumber glikogen darah, sumber enzim tubuh, sumber beberapa hormon dalam tubuh, menyediakan bangunan dasar untuk setidak-tidaknya satu vitaminB kompleks, menyediakan komponen tertentu dari DNA, menyediakan komponen tertentu dari RNA, menyediakan komponen tertentu dari ATP dan sumber bulu, wool, tanduk, dan kuku (Tillman,dkk., 1989).

III
TIJAUAN PUSTAKA


3.1 Lemak Kasar

Lemak adalah lipida sederhana, yaitu ester dari tiga asam – asam lemak dan trihidro alkohol gliserol.Pada umumnya, istilah lemak meliputi lemak – lemak dan minyak – minyak.Perbedaannya adalah pada sifat fisiknya.Lemak adalah solid (padat) pada temperature kamar (20ºC) sedangkan minyak pada temperature tersebut berbentuk cair (Tillman, 1989).

Seperti halnya karbohidrat, lemak mengandung C, hidrogen dan oksigen, tetapi lemak mengandung lebih banyak karbon dan hidrogen dalam perbandingannya terhadap oksigen (Anggorodi, 1979).

Sifat dari lemak tubuh dipengaruhi secara nyata oleh sifat sumber makannya.Hal ini sangat penting karena derajat kekasaran lemak tersebut adalah suatu faktor yang menarik dalam nilai pemasaran karkas daging ternak.Hal ini karena asam – asam lemak bahan makanan disimpan dalam tubuh dengan tidak mengalami perubahan (Anggorodi, 1979).

3.2 Analisis Lemak Kasar

Cara analisis proksimat lipida termasuk dalam fraksi eter.Susunan dan fungsi lipida pada tubuh hewan sangat bervariasi.Lipida mengandung unsur – unsur karbon, hidrogen dan oksigen sehingga merupakan sumber energi (Hernaman, 2015).

Prinsip dari analisis lemak kasar yaitu melarutkan (ekstraksi) lemak yang terdapat dalam bahan dengan pelarut lemak (ether) selama 3 – 8 jam.Ekstraksi menggunakan alat sokhlet.Beberapa pelarut yang dapat digunakan yaitu kloroform, petroleum benzene, heksana dan aseton. Lemak yang terekstraksi akan terakumulasi dalam wadah pelarut (labu sokhlet) kemudian dipisahkan dari pelarutnya dengan cara dipanaskan dengan oven 105ºC. Pelarut akan menguap sedangkan lemak tidak (titik didih lemak > 105ºC). Lemak dalam wadah ditentukan beratnya.Cara lainnya yaitu dengan menghitung selisih berat bahan dalam selongsong sebelum diekstraksi dikurang dengan berat bahan dalam selongsong setelah diekstraksi.

Kelemahan dalam analisis lemak kasar ini yaitu tidak hanya lemak yang dpat larut dalam pelarut lemak, tetapi terdapat pula komponen senyawa organik lain. Misalnya pigmen, asam organik, klorofil, sterol, dan vitamin A, D, E dan K sehingga terhitung sebagai lemak kasar. Kelemahnnya yang lain yaitu lemak dengan bobot molekul yang besar serta kompleks seperti fosfolipif dan lipoprotein sulit larut dalam ether sehingga bahan yang demikian harus di dekstruksi dulu agar bisa larut misalnya dengan HCl.

Komponen fraksi lemak kasar diantaranya ada lemak, minyak, malam atau lilin, pigmen, asam organik, klorofil, sterol, vitamin A, D, E, dan K, curcumin dan karoten...

III
TINJAUAN PUSTAKA


3.1 Serat Kasar

Keberadaan serat kasar dalam tumbuhan secara langsung sangat berkaitan dengan proses fotosintesis untuk tanaman yang mempunyai klorofil dan juga sangat berkorelasi dengan umur tanaman tersebut. Sebagai mana diketahui bahwa semakin besar umur tanaman maka kandungan serat kasar didalamnya akan semakin tinggi juga.

Umumnya tanaman yang tumbuh di wilayah tropis mengandung serat kasar diatas 6%, maka jika tanaman tersebut digunakan sebagai bahan pakan maka akan ada kendala tersendiri. Masalahnya, kandungan serat kasar yang terdapat dalam tanaman tidak boleh lebih dari 3%. Karena jika lebih dari 3% maka akan timbul penyakit pencernaan seperti mencret dan bisa juga menggangu proses penyerapan pakan dalam usus, karena serat kasar yang sulit dicerna (Ghufran,2010).

3.2 Analisis Serat Kasar

Analisis serat kasar adalah usaha untuk mengetahui kadar serat kasar pada bahan baku pakan. Pelaksanaanya di laboratorium dan biasanya dilakukan secara kimiawi dengan metode Weende. Bahan baku pakan yang diuji dimasak dengan asam lemak sampai mendidih sehingga menghidrolisis karbohidrat dan protein yang terdapat dalam bahan bakupakan tersebut. Pemasakan yang selanjutnya menggunakan alkali, sehingga terjadi penyabunan zat-zat lemak yang ada dalam bahan baku pakan. Zat-zat yang tidak larut selama proses pemasakan tadi bisa diketahui karena hanya tinggal terdiri dari serat kasar dan mineral. 

Langkah selanjutnya adalah menyaring hasil pemasakan, lalu dikeringkan, ditimbang, dan kemudian dipijarkan lalu didinginkan dan akhirnya ditimbang lagi, perbedaan berat timbang sebelum dan sesudah proses pemijaran merupakan berat serat kasar yang ada dalambahan baku pakan.Penyusunan pakan ternak, kadar serat kasar harus diperhitungkan sesedikit mungkin, terutama untuk bahan pakan bagi ternak yang produktif(Bambang, 1987).

III
TINJAUAN PUSTAKA


3.1 Energi Bruto

Suatu bahan pakan mengandung energi yang disebut dengan energi bruto. Energi bruto ini dalam tubuh ternak akan terbagi menjadi energi yang dapat dicerna yang akan diserap masuk dalam proses tubuh dan energi yang terbuang dalam tinja. Energi yang sudah tidak akan terbuang lagi disebut energi metabolis. Energi metabolis adalah energi pokok yang pasti digunakan ternak untuk bertahan hidup. Jika energi pokok ini sudah terpenuhi, dan masih menyisakan sejumlah energi tak terpakai, maka energi tersebut akan disimpan dalam bentuk lemak(Muhammad,1992).

Energi metabolis adalah energi yang dapat digunakan oleh tubuh, dan dapat dikethui melalui uji biologis. Kandungan energi metabolis dalam suatu bahan pakan dipengaruhi oleh kandungan Beta-N, serat kasar, dan lemak didalamnya. Dalam penyusunan formula ransum pakan, bentuk energi yang digunakan adalah energi metabolisme (EM) dengan satuan Kkal/kg (Dwi,2013).

3.2 Analisis Energi Bruto

Analisi kadar energi bruto adalah usaha untuk mengetahui kadar energi bahan baku pakan. Dalam analisis ini biasanya dilakukan penentuan energi bruto terlebih dahulu dengancara membakar sejumlah bahan baku sehingga diperoleh hasil oksidari berupa karbon dioksida, air, dan gas lain. Untuk mengukur panas yang dihasilkan pembakaran tersebut digunakan suatu alat bom kalorimeter. Penentuan energi bruto dengan menggunakan bom kalorimeter ini menyatakan jumlah energi kalori dalam bahan baku pakan. Energi metabolis yang dihasilkan dari suatu bahanpakan merupakan 60% dari total energi brutonya (Bambang,1987).


Untuk lebih jelas mengenai pembahasan isi Laporan Praktikum (Laprak) Nutrisi Ternak Analisis Proksimat - Bungkil Kelapa karena di atas hanya penggalan dari isi laporan, untuk lebih jelasnya bisa dilihat di preview di bawah ini dan jika ingin mendownload makalah ini dalam bentuk pdf bisa menekan button unduh disini.




Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© Note-Student | Share Science
Posts RSSComments RSS
Back to top