Minggu, 05 Februari 2017

Tinjaun Pustaka Sistem Alat Reproduksi Sapi Betina


TINJAUN PUSTAKA
SISTEM ALAT REPRODUKSI SAPI BETINA


Berbagai bentuk kegagalan reproduksi sapi betina, di antaranya di sebabkan oleh penyimpangan bentuk anatomi dan fisiologis yang normal dari alat kelamin. Untuk dapat menelaahnya lebih lanjut, maka_:sebagai dasar perlu diketahuisegi-segi normalnya, sebelum kita mempelajari kelainan-kelainan yang menyebabkan kegagalan reproduksi.

Hafez (1980) mengatakan, sistem alat reproduksi hewan betina terdiri dari ovarium, oviduk, uterus, vagina dan alat kelamin luar.

Ovarium. Roberts (1971) menyebutkan, bahwa sebagai organ reproduksi pada hewan betina, ovarium sapi bentuknya oval dengan variasi ukuran: panjang 1,3 - 5 cm, lebar 1,3- 3,2 cm, tebal 0,6 - 1,9 cm dan berat 5 - 15 gram. Ovariurm kanan umumnya lebih besar dari ovarium kiri, karena secara fisiologis lebih aktif. Ovarium kuda bentuknya seperti ginjal dengan variasi ukuran: panjang 4 - 8 cm, lebar 3 - 6 cm, tebal 3 - 5 cm dan berat 30 - 90 gram. Domba bentuk ovariumnya sarna dengan bentuk ovarium sapi, perkiraan panjangnya adalah 1,3 - 1,9 cm. Sedangkan ovarium babi berbentuk oval dengan berat 3,5 - 10 gram, tetapi  pada waktu pubertas bentuknya berubah menyerupai setangkai buah anggur. Ukuran-ukuran dari ovarium di atas bervariasi menurut struktur yang dikandungnya, folikel dan atau korpus luteum.

Hafez (1980), membagi ovarium menjadi bagian kortek dan medulla serta bagian epithel kecambah yang mengelilinginya. Saat hewan menjelang pubertas, umumnya ovarium akan mengalami peningkatan berat 4 - 7 kali dari berat waktu lahir. Medulla ovarium mengandung jaringan ikat fibroelastis, sistem syaraf dan pembuluh darah yang masuk melalui hilus (pertautan antara ovarium dengan mesovarium). Pembuluh darah terseut tersusun dalam suatu bentuk spiral yang definitif. Kortek mengandung bakat-bakat  folikel dan hasil akhirnya, disamping itu. disini juga tempat memproduksi beberapa hormon reproduksi. Selain itu ovarium juga dapat mempunyai struktur-struktur yang berbeda (folikel atau korpus luteum) pada berbagai tingkat perkembangan atau regresi.

Jaringan ikat kortek mengandung banyak fibroblas, sedikit kolagen dan serabut retikuIer, pembuluh darah, pembuluh limphe, syaraf serta serabut-serabut otot licin. Sel­sel jaringan ikat yang dekat dengan bagian permukaan tersusun sejajar dengan permukaan ovarium, dimana susunannya agak lebih padat dari sel-sel yang terletak kearah medulla. Lapisan padat ini dikenal sebagai tunica albuginea. Pada permukaan ovarium terdapat selapis sel yang datar dan disebut dengan epithel kecambah (Hafez, 1980).

Roberts (1971) menyebutkan, ovarium sapi terletak pada perbatasan kranial ligamentum lata, kadangkala didasar (ventro-lateral) pelvis dekat bagian kranial dari gerbang dalam pelvis dan kranto-lateral mulut servik. Ovarium di bungkus oleh bursa ovaria yaitu kantong yang dibentuk oleh ligamentum utero ovaria dengan mesovarium. Bagian ovarium yang tidak bertaut dengan mesovarium menonjol ke dalam kavum abdominalis dan pada bagian inilah terlihat penonjolan dari folikel ovarium.

Sedangkan menurut Laing (1970), ovarium terletak diruang abdomen sebelah kaudal agak lateral dari ujung koruna uteri dan dapat ditemukan dengan jalan menelusuri koruna dari servik. 

Oviduk. Roberts (1971) menyatakan, bahwa oviduk atau tuba Fallupii merupakan saluran kelamin paling anterior, kecil, berliku-liku dan terasa keras seperti kawat terutama pada pangkalnya. Panjang dan derajat liku-likunya berbeda­beda tergantung species. Pada sapi dan kuda panjang oviduk mencapai 20 - 30 cm dengan diameter 1,5 - 3,0 mm. 

Tuba Fallupii tergantung pada mesosalpinx. Ia dapat dibagi atas tiga bagian yaitu infundibulum dengan fimbriae, ampula, dan isthmus. Ujung oviduk dekat ovarium membentang  dan ternganga membentuk suatu struktur berupa corong disebut infundibulum. Pada sapi luas permukaan infundibulum mencapai 20 - 30 cm2. Muara infundibulum disebut ostium abdominale, dikelilingi oleh penonjolan-penonjolan ireguler pada tepi ujung oviduk yang disebut fimbriae. Ampula tuba Fallupii merupakan setengah dari panjang tuba dan dilanjutkan dengan bagian tuba yang sempit disebut isthmus. Dinding tuba Fallupii terdiri dari: mukosa, muskulator, dan selaput serosa dibagian luar (Toelihere, 1981).

Uterus. Roberts (1971) m,enyatakan, bahwa uterus adalah suatu struktur saluran muskular yang diperlukan untuk menampung ovum yang telah dibuahi, pemberi nutrisi dan perlindungan foetus, serta stadium permulaan dari ekspulsi foetus pada wakru kelahiran. Uterus sapi, kedua kornua meninggalkan korpus uteri pada satu sudut lancip dan. Terletak hampir sejajar satu dengan lainnya. Korpus uteri panjangnya kira-kira 2 - 4 cm. Tergantung, pada umur dan bangsa sapi, kornua uteri panjangnya berkisar antara 15 - 30 cm dengan diameter 1,25 - 5 cm pada keadaan tidak bunting.  Kedua kornua disatukan oleh ligamen interkornual dorsal dan ventral, kira-kira separuh panjang kornua uterus dapat  terletak di lantai pelvis, tepi pelvis atau pada sapi yang sudah sering melahirkan melewati tepi pelvis dari lantai kaudal rongga perut. uterus umumnya terletak dorsal atau lateral dari vesika urinaria dan dipertautkan ke dorso lateral oleh ligamentum lata atau mesometrium. Selama kebuntingan, uterus sangat besar, tertarik kedepan dan kebawah dalam kavum abdominalis.

Hafez (1980), membagi uterus menjadi 3 bagian yaitu kornua uteri, korpus uteri, dan servik uteri. Proporsinya sangat relatif dari masing-masing bagian ini, demikian pula bentuk dan susunan kornua uteri, berbeda-beda tergantung species. Pada sapi, domba dan kuda dengan uterus tergolong bipartitus, terdapat suatu dinding penyekat (septum) yang  memisahkan kedua kornua dan korpus uteri yang cukup panjang.

Dilihat dari luar, korpus uteri pada sapi dan domba tampak lebih besar daripada yang sebenarnya, karena bagian kaudal kornua dipersatukan oleh ligamentum interkornualis. Kedua kornua uteri dipertautkan pada dinding pelvis dan dinding abdomen oleh ligamentum lata. Pada ternak pluripara ligament uterus mengembang dan uterus menggantung ke rongga pelvis. 

Kemudian Roberts (1971) menambahkan, bahwa dinding utefus terdiri dari: se1aput mukosa dibagian da1am, selapis otot licin dibagian tengah, dan selapis serosa dibagian luar yang disebut peritonium. Dari segi fisiologik, hanya dua lapisan uterus yang dikenal yaitu endometrium dan miometrium. 

Permukaan dalam uterus ruminansia mengandung penonjolan-penonjolan seperti cendawan dan tidak berkelenjar disebut karunkula. Karunkula tersusun dalam 4 jalur, mulai dari korpus uteri ke kedua kornua uteri dan terdiri dari jaringan ikat seperti yang ditemukan dalam stroma kortek ovari. uterus sapi yang tidak bunting memiliki 70 - 120 karunkula, masing-masing berdiameter 15 mm. Selama kebuntingan karunku1a meneapai diameter 10 cm (Toelihere, 1981).

Servik. Roberts (1971) menyebutkan, servik atau leher uterus merupakan suatu otot sphinter tubular yang sangat kuat dan terdapat antara vagina dan uterus. Dindingnya lebih keras, 1ebih. tebal dan lebih kaku dari pada dinding uterus atau vagina. Hal ini lebih jelas pada hewan-hewan primipara daripada pluripara. Pemberian darah dan syaraf sama seperti untuk vagina keeuali arteri uteroovarii. Servik uteri berukuran panjang 5 - 10 cm, diameter 1,5 – 7 cm (rata-rata 3 - 4 cm), sedangkan diameter terbesar dijumpai pada hewan yang sudah sering beranak (pluripara). Servik terletak kaudal dari korpus uteri didalam rongga pelvis, pada tepi pelvis, atau didalam rongga perut selama kebuntingan, servik tertarik kedalam kavum abdominalis.

Sedangkan menurut Hafez (1980), servik adalah suatu struktur berupa sphinter yang menonjol ke kaudal atau ke dalam vagina, dimana dindingnya tebal dengan lumen yang rapat. Walaupun struktur servik berbeda-beda antara golongan mamalia, akan tetapi dindingnya selalu ditandai oleh berbagai penonjolan-penonjolan. Pada ruminansia penonjolan­penonjo1an ini terdapat dalam bentuk lereng-lereng tranversal dan saling menyilang disebut sebagai cincin-cincin annular. Derajat perkembangannya berbeda tergantung dari species. Cincin-eincin ini sangat nyata pada sapi (biasa­nya 4 buah).

Hafez (1980) menambahkan, dinding servik terdiri dari mukosa, muskularis, dan serosa. Sel-sel yang menghasilkan mukus pada mukosa mempunyai permukaan sekretoris yang luas. Aktifitas sekretoris yang tertinggi ditemukan pada waktuestrus, dimana mukus dalam keadaan tidak begitu kental.

Vagina. Roberts (1971) berpendapat bahwa, vagina adalah organ kelamin betina dengan struktur selubung muskuler yang terletak didalam rongga pelvis, dorsal dari vesika urinaria. Berfungsi sebagai alat kopulatoris dan sebagai tempat lewatnya foetus sewaktu partus. Vagina mempunyai kesanggupan berkembang yang cukup besar. Ujung kaudal vagina tepat berbatasan dengan bagian kranial dari muara urethra, didaerah himen. Rimen adalah suatu konstriksi sirkuler antara vagina dan vulva. Himen dapat menetap dalam berbagai derajat pada semua species. Sekitar 14 prosen sapi dara memiliki sisa himen, sedangkan biasanya akan menghilang sesudah kopulasi atau kelahiran. Vagina sapi yang tidak bunting mencapai panjang 25 - 30 cm.

Dinding vagina terdiri dari: mukosa, muskularis, dan serosa. Selaput lendir terdiri dari sel-sel epithel tidak berkelenjar, bersusun dan squamous. Kecuali pada sapi, beberapa sel mukus terdapat dibagian kranial dekat servik dimana permukaan epithel tidak berkonifikasi, mungkin karena kadar estrogen yang rendah dalam sirkulasi darah (Toelihere, 1981).

Alat kelamin luar. Toelihere (1981) menyatakan, alat kelamin luar terbagi atas vestibulum dan vulva. Vulva terdiri dari labia mayora, labia minora, kommisura dorsalis, kommisura ventralis dan klitoris. Pertemuan antara vagina  dan vestibulum ditandai oleh muara urethra eksterna yang disebut dengan orifisium urethra eksterna, disamping itu sering pula oleh lereng himen. Bagian posterior dari muara urethra pada lantai vestibulum terdapat suatu kandung buntu yang disebut divertikulum suburethralis, hal ini biasanya ditemukan pada sapi, domba dan babi. Vestibulum sapi mempunyai panjang kira-kira 10 - 12 cm pada bagian ventral dan 7,5 - 10 cm pada dinding dorsal. Bagian luar klitoris yang terlihat pada sapi sangat kecil. Vulva sapi panjang 10 12,5 cm pada bagian ventral dan 7,5 - 10 cm pada dinding dorsal (Roberts, 1971).



DAFTAR PUSTAKA

Hafez, E.S.E. 1980. Reproduction in Farm Animals. Ed. 4. Lea and Febiger Philadelphia, USA. 

Roberts, S.J. 1971. Veterinary Obstetric and Genital Diseases (Theriogenology) Ed. 2. (Indian Edition). CBS. Publisheis & Distributors, India.

Salisbury, G.W. and N.L. Van Demark. 1961. Physiology of Reproduction and artifieial Insemination of cattle. W.H. Freeman and Co. San Fransisco and London. 

Laing, J.A. 1970. Fertility and Infertility in the Domestic Animals. Ed. 2. Bailliere   Tindall and Cassel,  London. 

Toelihere, M.R. 1981. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Angkasa, Bandung. 


Untuk lebih jelas mengenai pembahasan isi Tinjaun Pustaka Sistem Alat Reproduksi Sapi Betina karena di atas hanya penggalan dari isi laporan, untuk lebih jelasnya bisa dilihat di preview di bawah ini dan jika ingin mendownload makalah ini dalam bentuk pdf bisa menekan button unduh disini.



Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© Note-Student | Share Science
Posts RSSComments RSS
Back to top