Sabtu, 04 Februari 2017

Uji Enzim - Laporan Praktikum Biokimia



III
PEMBAHASAN

Enzim adalah protein yang berfungsi sebagai biokatalisator, senyawa yang meningkatkan kecepatan reaksi kimia. Enzim merupakan biokatalisator organik yang dihasilkan organisme hidup di dalam protoplasma, yang terdiri atas protein atau suatu senyawa yang berikatan dengan protein. Enzim disintesis dalam bentuk calon enzim yang tidak aktif, kemudian diaktifkan dalam lingkungan pada kondisi yang tepat. Misalnya, tripsinogen yang disintesis dalam pankreas, diaktifkan dengan memecah salah satu peptidanya untuk membentuk enzim tripsin yang aktif. Bentuk enzim yang tidak aktif ini disebut zimogen (Poedjiadi, 2006).

Enzim atau biokatalisator adalah katalisator organik yang dihasilkan oleh sel. Enzim sangat penting dalam  kehidupan,  karena  semua  reaksi  metabolisme dikatalis oleh enzim. Jika tidak ada enzim, atau aktivitas enzim terganggu maka reaksi  metabolisme  sel  akan  terhambat  hingga  pertumbuhan  sel  juga terganggu. Reaksi-reaksi enzimatik dibutuhkan agar bakteri dapat memperoleh makanan atau nutrient dalam keadaan terlarut yang dapat diserap ke dalam sel, memperoleh energi Kimia yang digunakan untuk biosintesis, perkembangbiakan, pergerakan, dan lain-lain. Pada Enzim amilase dapat memecah ikatan pada amilum hingga terbentuk maltosa. Ada tiga macam enzim amilase, yaitu α amilase, β amilase dan γ amilase. Yang terdapat dalam saliva (ludah) dan pankreas adalah α amilase. Enzim ini memecah ikatan 1-4 yang terdapat dalam amilum dan disebut endo amilase sebab enzim ini bagian dalam atau bagian tengah molekul amilum (Poedjiadi, 2006).

Fungsi suatu enzim ialah sebagai katalis untuk proses biokimia yang terjadi dalam sel maupun luar sel. Suatu enzim dapat mempercepat reaksi 10-11 kali lebih cepat daripada apabila reaksi tersebut dilakukan tanpa katalis. Berfungsi sebagai katalis yang sangat efisien, disamping itu mempunyai derajat kekhasan yang tinggi. Enzim dapat menurunkan energi aktivasi suatu reaksi kimia. Reaksi kimia ada yang membutuhkan energi (reaksi endergonik) dan adapula yang menghasilkan energi/mengeluarkan energi (eksergonik) (Poedjiadi, 1994).

Enzim yang akan dibahas dalam laporan ini ialah enzim yang terdapat di mulut yaitu air liur atau saliva. Air liur atau saliva manusia α-amilase sering digunakan dalam percobaan atau praktikum pada sekolah menengah atas dan perguruan tinggi untuk mempermudah mahasiswa dalam mempelajari konsep aktivitas enzim (Marini, 2005). Alasannya karena mudah didapat, cepat, dan tidak mahal. Mahasiswa dapat mempelajari pengaruh faktor lingkungan seperti temperatur, pH, konsentrasi substrat, dan konsentrasi enzim terhadap reaksi enzim. Oleh karena itu, mahasiswa dapat dengan mudah mempelajari biokimia enzim, aspek fisiologisnya, serta penerapan bioteknologi dari enzim.

Pada praktikum enzim uji pertama yang dilakukan adalah uji derajat keasaman (ph). Seluruh enzim peka terhadap perubahan derajat keasaman (pH). Enzim menjadi nonaktif bila diperlakukan pada asam basa yang sangat kuat. Sebagian besar enzim dapat bekerja paling efektif pada kisaran pH lingkungan yang agak sempit. Diluar pH optimum tersebut, kenaikan atau penurunan pH menyebabkan penurunan aktivitas enzim dengan cepat. Misalnya, enzim pencerna dilambung mempunyai pH optimum 2 sehingga hanya dapat bekerja pada kondisi sangat asam. Sebaliknya, enzim pencerna protein yang dihasilkan pankreas mempunyai pH Optimum 8,5. Kebanyakan enzim intrasel mempunyai pH optimum sekitar 7,0 (netral).

Uji derajat keasaman contoh sampel enzim atau saliva (air ludah) diteteskan kepada kertas lakmus bitu dan lakmus merah. Hasilnya adalah kertas lakmus biru tetap berwarna biru dan kertas lakmus merah tetap berwarna merah. Ini berarti air libur tersebut memiliki derajat keasaman netral atau PH ± 7.

Enzim bekerja pada kisaran pH tertentu dan umumnya tergantung pada pH lingkungan. Enzim menunjukkan aktivitas maksimal pada pH optimum, umumnya antara pH 6-0,8. Jika pH rendah atau tingggi, maka dapat menyebabkan enzim mengalami denaturasi, sehingga menurunkan aktivitasnya. Terjadinya penurunan aktivitas enzim dapat dilihat dari hasil hidrolisis substrat yang dikatalisis.

Uji berikutnya adalah uji komposisi dasar enzim, uji yang dilakukan adalah uji biuret dan uji molish. Pada uji biuret ion Cu2+ dari preaksi biuret dalam suasana basa (NaOH 10%) akan berekasi dengan polipeptida atau ikatan-ikatn peptida yang menyusun protein membentuk senyawa berwarna ungu. Uji ini bertujuan untuk melihat adanya kandungan protein dalam suatu senyawa. Uji molish adalah uji yang bertujuan untuk mengetahui adanya kandungan karbohidrat.

Hasilnya adalah pada uji biuret adalah potitif karena perubahan warna menjadi warna biru dan pada uji molish hasilnya juga positif karena perubahan warna menjadi merah bata. Hasil kedua uji positif menandakan bahwa sampel enzim saliva (air ludah) terdapat protein dan karbohidrat.

Percobaan berikutnya adalah uji pH Optimum, pada uji ini disiapkan 4 tabung reaksi yang masing-masing berisi sampel enzim atau saliva dan amilum. Kemudian masing-masing tabung diisi oleh HCL 0,4%, Asam Laktat, H2O, Na2CO3 1%. Tabung kemudian dipanaskan dalam penangas air selama 15 menit. Setelah dipanaskan selama 15 menit dilakukan uji iodium dan uji benedict.

Uji Iodium bertujuan membuktikan adanya polisakarida, dalam hal ini adalah amilum. Identifikasi ini didasarkan pada pembentukan kompleks adsorpsi berwarna spesifik oleh polisakarida akibat penambahan iodium. Reaksi amilum dengan Iodium menghasilkan berwarna biru kehitaman. Uji Benedict bertujuan membuktikan adanya gula reduksi (monosakarida maupun oligosakarida). Pengujian ini berdasarkan  gula yang mempunyai gugus aldehida atau keton bebas mereduksi ion Cu2+ dalam suasana alakalis menjadi Cu+ yang mengendap sebagai Cu2O berwarna merah bata. Reaksi positif ditandai dengan perubahan warna larutan menjadi hijau kekuningan, dan setelah dilakukan pemanasan terbentuk endapan berwarna merah bata, kepekatan warna sebanding dengan kandungan gula pereduksi yang ada (Yazid, 2006).

Dari hasil percobaan uji iodium adalah negatif karena tidak menunjukan perubahan warna menjadi biru tetapi sampel tetap berwarna bening. Percobaan Benedict hasilnya juga negatif karena sampel tetap berwarna biru setelah dipanaskan, tidak sesuai dengan literatur bahwa jika dibakar akan berubah menjadi merah bata.

Percobaan terakhir adalah uji aktivitas kerja enzim. Uji ini dilakukan dengan menambahkan sampel enzim atau saliva (air ludah) kedalam tabung reaksi yang terlebih dahulu diisi amilum. Kemudian dipanaskan dalam penangas air dengan suhu 37oC. Tujuan dari pemanasan dalam suhu 370C adalah untuk melihat aktivitas kerja enzim dalam suhu normal seperi di dalam mulut. Kemudian setiap 3 menit dilakukan uji iodium sampai hasilnya negatif. Hasil  negatif  pada  uji  iodium  mengindikasikan  bahwa  amilum  telah terpecah dan bukan dalam bentuk polisakarida lagi. 

Kemudian lakukan uji benedict, uji ini mendapatkan hasil positif untuk keberadaan gula pereduksi. Hasil positif ini dapat juga mengindikasikan bahwa amilum tersebut benar-benar sudah terhidrolisis menjadi disakarida. Ciri hasil positif benedict adalah adanya perubahan warna. Kemudian dilakukan juga Uji barfoed, uji ini akan memberikan hasil positif untuk monosakarida. Hasil positif ini dapat juga mengindikasikan bahwa amilum tersebut sudah terhidrolisis atau terpecah sempurna ciri uji ini positif adalah perubahan warna ataupun  terbentuknya  suatu endapan. 

Hasil dari percobaan aktifitas enzim dengan uji benedict menghasilkan hasil positif karena terdapat perubahan warna menjadi hijau kekuninagan, hal tersebut menandakan adanya gula pereduksi. Sementara hasil uji barfoed menghasilkan warna negatif karena tidak terdapat perubahan warna ataupun endapan melainkan tetap berwarna bening.  


IV
KESIMPULAN

  1. Pada uji derajat keasaman hasilnya adalah lakmus merah dan biru tetap berwarna merahd an biru itu menandakan sampel netral atau pH = 7.
  2. Pada percobaan komposisi dasar dengan uji biuret dan uji molish reaksi yang dihasilkan positif karena pada uji biuret sampel berubah menjadi warna biru, itu menandakan adanya protein. Begitupun dalam uji molish reaksi positif karena terjaid perubahan warna menjadi merah bata itu menandakan adanya karbohidrat dalam sampel.
  3. Pada uji Penentuan pH Optimum dengan menggunakan 4 sampel yang diuji dengan uji iodium dan uji benedict semuanya hasilnya negatif karena uji iodium dikatakan positif jika terjadi perubahan warna menjadi kebiruan tetapi sampel tetap bening. Begitupun dengan uji benedict uji positif jika terdapat perubahan warna menjadi merah bata, tetapi sampel tetap berwarna biru.
  4. Pada uji aktivitas kerja enzim dilakukan dengan uji benedict dan uji barfoed. Hasilnya uji benedit reaksinya positif karena terdapat perubahan warna menjadi kehijauan itu menandakan adanya gula pereduksi. Pada uji barfoed hasilnya negatif karena sampel tetap bening sementara syarat uji ini positif adalah adanya endapan atau perubahan warna.

Untuk lebih jelas mengenai pembahasan isi Laporan Praktikum (Laprak) Uji Enzim - Laporan Praktikum Biokimia karena di atas hanya penggalan dari isi laporan, untuk lebih jelasnya bisa dilihat di preview di bawah ini dan jika ingin mendownload makalah ini dalam bentuk pdf bisa menekan button unduh disini.




Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© Note-Student | Share Science
Posts RSSComments RSS
Back to top