Rabu, 08 Maret 2017

Makalah Bahan Pakan Kelas I (Jerami Ubi Jalar, Hay, Pucuk Tebu)



1.1 Latar Belakang

Bahan pakan adalah segala sesuatu yang dapat dimakan, dapat diabsorbsi dan bermanfaat bagi ternak, oleh karena itu apa yang disebut dengan bahan pakan adalah segala sesuatu yang memenuhi semua persyaratan tersebut (Kamal, 1998), sedangkan Hartadi, dkk., (1997), menyatakan bahwa yang dimaksud bahan pakan adalah suatu bahan yang dimakan oleh hewan yang mengandung energi dan zat-zat gizi (atau keduanya) di dalam pakan ternak. Biasanya untuk pemberian pakan pada ternak, bahan pakan sudah disusun sedemikian rupa dalam bentuk ransum. 

Klasifikasi bahan pakan secara internasional dibagi menjadi 8 kelas yaitu, hijauan kering dan jerami, pasture, silase, sumber energy, sumber protein, sumber mineral, sumber vitamin, dan sumber aditif. Hijauan kering (dry forages) dan jerami (roughages), kelas ini melliputi semua hijauan jerami dan produk lain yang mengandung serat kasar >18% dan dinding sel >35% dalam bahan kering. Contoh: hay, jerami ubi jalar dan pucuk tebu.

Dengan demikian untuk mengatahui kandungan bahan pakan khususnya bahan pakan kelas 1, maka makalah ini dibuat untuk memberikan informasi tentang kandungan nutrisi dari pakan kelas satu khususnya hay, jerami ubi jalan, dan pucuk tebu.

1.2 Identifikasi Masalah

1) Apa definisi pakan kelas satu?
2) Apa kandungan  nutrisi dari Jerami Ubu Jalar?
3) Apa kandungan nutrisi dari Hay?
4) Apa kandungan nutrisi dari Pucuk Tebu?

1.3 Tujuan Penulisan

1) Mengetahui definisi pakan kelas satu?
2) Mengetahui kandungan nutrisi dari Jerami Ubu Jalar?
3) Mengetahui kandungan nutrisi dari Hay?
4) Mengetahui kandungan nutrisi dari Pucuk Tebu?


II
PEMBAHASAN

2.1 Bahan Pakan Kelas Satu

Bahan pakan dibagi menjadi dua menurut sumbernya, yaitu nabati dan hewani. Bahan pakan nabati adalah pakan yang berasal dari tanaman pangan seperti jagung, sorgum dan gandum. Bahan pakan hewani adalah bahan pakan yang bersumber dari hewan seperti udang, ikan dan darah (Rasyaf, 1994). Secara Internasional bahan pakan dapat dibagi menjadi 8 kelas yaitu hijauan kering, pasture, silase, sumber energi, sumber protein, sumber mineral, sumber vitamin dan zat additive (Tillman, dkk., 1998).

Bahan pakan yang termasuk dalam kelas 1 ini adalah semua hay jerami kering, dry fodder, dry stover dan semua bahan pakan kering yang berisi 18% atau lebih serat kasar (Rasyaf, 1994). Hijauan kering adalah rumput dan daun-daunan leguminosa yang sengaja dikeringkan agar dapat disimpan dalam waktu yang lama dan digunakan sebagai cadangan bahan pakan ternak pada musim kekurangan pakan. Pemberian jerami pada beberapa ternak akan menunjukkan defisiensi vitamin A karena terjadinya penurunan suplementasi vitamin A saat proses fermentasi di dalam rumen (Lubis, 1992).

2.2 Jerami Ubi Jalar

Ubi jalar merupakan tanaman ubi – ubian dan tergolong tanaman semusim (berumur pendek) dengan susunan utama terdiri dari batang, ubi, daun, buah dan biji.  Tanaman ubi jalar tumbuh menjalar pada permukaan tanah dengan panjang tanaman dapat mencapai 3 m, tergantung pada kultivarnya.  Batang tanaman berbentuk bulat, tidak berkayu, tidak berbuku-buku dan tipe pertumbuhannya tegak atau merambat.  Daun berbentuk bulat sampai lonjong dengan tepi rata atau berlekuk dangkal sampai berlekuk dalam, sedangkan bagian ujungnya meruncing (Rukmana, 1997).

Ubi jalar adalah tanaman yang tumbuh baik di daerah beriklim panas dan lembab,  dengan suhu optimum 27°C berkelembaban udara 50% – 60% dan lama penyinaran 11-12 jam per hari dengan curah hujan 750 mm – 1500 mm per tahun.  Produksi dan pertumbuhan yang optimal untuk usaha petani ubi jalar yang cocok adalah pada saat musim kemarau (kering).  Tanaman ini dapat tumbuh sampai ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut.  Ubi jalar masih dapat tumbuh dengan baik di dataran tinggi (pegunungan) tetapi umur panen menjadi panjang dan hasil yang didapat rendah (Rukmana, 1997).  

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) produksi ubi jalar tahun 2013 sebanyak 48.506.500 ton. Melimpahnya ubi jalar pada saat masa panen menghasilkan bahan ikutan atau by product yang melimpah pula yaitu jerami ubi jalar.  Jerami ubi jalar mempunyai potensi kandungannutrien yang baik, hal ini merupakan salah satu alasan mengapa jerami ubi jalar dapat digunakansebagai pakan sumber hijauan. Berdasarkan hasil uji laboratorium, komposisi kimia yang terkandung pada jerami ubi jalar berdasarkan bahan kering adalah air 86,12% abu 10,36%, protein kasar 17,16%, serat kasar 20,08%, lemak 0,96%, dan energi sebesar 4.058 kkal/kg (Pratiwi, dkk,. 2015)

Kandungan nutrisi jerami ubi jalar (BK, Abu, PK, SK, LK, BETN, Ca, P, TDN) menurut Tim Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan IPB bias di lihat di tabel 1.


Tabel 1. Kandungan Nutrisi Jerami  Ubi Jalar

Zat-zat makanan
Komposisi (%)
Bahan kering (%)
16,3
Abu (%)
16,1
Protein Kasar (%)
19,2
Serat Kasar (%)
16,2
Lemak Kasar (%)
2.6
BETN (%)
45.9
TDN (%)
60
Ca (%)
0,44
P (%)
0,55

Sumber: Lab Ilmu dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan IPB (2012).

Menurut Pratiwi, dkk. (2015), Kandungan air yang cukup tinggi menyebabkan jerami ubi jalar tidak dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama, sehingga pemberian pada ternak hanya dapat dilakukan pada satu waktu saja. Tetapi ada cara untuk memperpanjang penyimpanan dengan cara ensilase.

Ensilase merupakan proses pengawetan pakan dengan cara fermentasi secara anaerob. Pengawetan yang dilakukan terhadap jerami ubi jalar tersebut membuat jerami ubi jalar dapat disimpan lebih lama dengan kandungan protein yang masih baik, sesuai dengan pendapat Sugiri dkk., (1981) bahwa keuntungan pengawetan hijauan adalah dapat dipertahankan kualitasnya atau komposisi nutriennya hingga berakhirnya masa penyimpanan. Optimalisasi proses fermentasi anaerob dapat dilakukan dengan cara mempercepat suasana asam dalam waktu singkat (Ishida dan Hasan, 1992), hal ini dapat dilakukan dengan merangsang perkembangbiakan bakteri pembentuk asam melalui penambahan bahan yang banyak mengandung karbohidrat sebagai sumber energi bagi bakteri.
Penambahan nitrogen dapat mempercepat perkembangbiakan bakteri pada proses ensilase. Semakin tinggi perkembangbiakan bakteri, maka suasana asam pada proses ensilase semakin cepat tercapai. Urea merupakan salah satu bahan sumber nitrogen yang biasa digunakan pada pakan ternak. Urea merupakan salah satu sumber non protein nitrogen (NPN) yang mengandung 41 - 45 % N.  Di samping itu, penggunaan urea dapat meningkatkan nilai gizi makanan dari bahan yang berserat tinggi serta berkemampuan untuk merenggangkan ikatan kristal molekul selulosa sehingga memudahkan mikroba rumen memecahkannya (Basya, 1981).

2.3 Hay 

Hay adalah hijauan pakan yang diawetkan melalui pengeringan agar dapat disimpan lama sehingga dapat digunakan pada musim kemarau ( Siregar, 1996). Menurut, Siregar (1996), pembuatan hay dapat menggunakan alat pengering sejenis oven atau dengan bantuan sinar matahari. Pengeringan yang menggunakan alat pengering membutuhkan biaya yang relatif mahal, sehinggga kurang populer. Oleh karena itu, cara pengeringan yang lebih ekonomis dan praktis adalah dengan memanfaatkan sinar matahari. Apalagi di daerah tropis seperti Indonesia, sinar matahari tersedia sepanjang tahun. 
Menurut Aak (1990), manfaat hay antara lain sebagai penyedia makanan ternak pada saat-saat tertentu, misalnya di masa-masa paceklik dan bagi ternak selama dalam perjalanan; memanfaatkan hijauan pada saat pertumbuhan terbaik tetapi saat itu belum dimanfaatkan.

Susetyo, (1980), mengatakan manfaat pembuatan hay antara lain adalah menyediakan pakan yang akan dapat digunakan pada musim paceklik, menampung kelebihan produksi pakan hijauan, memanfaatkan hijauan pada saat pertumbuhan terbaik tetapi saat itu belum digunakan secara langsung, dan mendayagunakan hasil limbah pertanian maupun hasil ikutan pertanian.

Hay mengandung nilai gizi yang lebih rendah dari hijauan segar. Menurut Siregar (1996), untuk menjaga agar nilai gizi hay tidak terlalu turun, perlu diperhatikan beberapa faktor seperti : kesuburan lahan pertanaman, jenis hijauan yang akan dibuat hay, waktu pemotongan yang tepat dan proses pengeringan dan penyimpanan. Limbah pertanian seperti jerami padi, limbah kacang tanah, jagung, kacang hijau dan lainnya juga dapat dibuat hay. Kandungan kadar air pada hay (baled) supaya aman disimpan adalah kurang dari 14%.

Kandungan nutrisi Hay daun rami (Bahan Kering, Abu, Protein Kasar, Lemak Kasar, dan Serat Kasar)  menurut Lab Pusat Antar Institut Pertanian Bogor dilihat dalam tabel 2.

Tabel 2: Koposisi Nilai Nutrisi Hay Daun Rami

Zat-zat makanan
Komposisi (%)
Bahan kering (%)
84,73
Abu (%)
19,34
Protein Kasar (%)
22,39
Serat Kasar (%)
3,51
Lemak Kasar (%)
12,4

Sumber: Laboratorium Pusat Antar Universitas IPB (2011).

Nilai tersebut dipengaruhi oleh :
  1. Jenis rumput/hijauan
  2. Umur panen
  3. Kesuburan tanah, Hay merupakan hijauan  yang disimpan dalam bentuk kering yang digunakan sebagai makanan ternak pada saat ketersediaan hijauan kurang. Prinsip pembuatan hay adalah pengurangan kandungan air pada hijauan segar sampai batas aman untuk penyimpanan tanpa mengakibatkan tumbuhnya jamur atau penurunan kandungan zat makanan. Kandungan air hay 12-22% atau lebih dari 15 % bergantung penyimpanan.
  4. Kehilangan Nutrisi dalam Pembuatan Hay, Kehilangan terjadi dalam proses pembuatan, terutama saat panen, pengeringan dan pemindahan hay ke tempat penyimpanan. Kehilangan bahan kering yang terjadi selama pengeringan di lapangan, akibat respirasi (enzim tanaman), selama proses pelayuan dan pengeringan adalah 4-15%, (tergantung cuaca), kerusakan daun 2-5% untuk rumput, 3-15% untuk legume pada kondisi cuaca baik kehilangan sekitar 15-20% akibat leaching air hujan 5-14%. Kualitas saat pengeringan di lapangan (filed curing) dipengaruhi faktor : umur tanaman, metode penanganan, kandungan air, dan kondisi cuaca saat panen. Hujan mengakibatkan kehilangan bahan kering mencapai 20-40%, 30% P, 65% K, 20% N, dan 35% BETN
  5. Kehilangan Nutrient Selama Penyimpanan, Kehilangan nutrien yang lebih lanjut akan terjadi pada hay yang disimpan di dalam gudang pada kondisi kandungan air yang berlebih. Kelebihan kandungan air dapat menyebabkan terjadinya proses fermentasi yang mengakibatkan meningkatnya temperatur sehingga menghasilkan pembakaran spontan. Hay yang disimpan pada kondisi temperatur 36oC dengan kandungan air 18% menyebabkan penurunan sekitar 8%. Hay kadar air 16% sedikit peningkatan temperatur, air 25% memanas mencapai 45oC, hay basah dengan kadar air 40% panas mencapai 60-65oC mengandung jamur thermophilik.
  6. Nilai Nutrisi Hay, Hay merupakan sumber energi bagi ternak, namun demikian hay yang dibuat dari rumput dan legume yang berkualitas tinggi cukup baik sebagai sumber protein, vitamin, dan mineral. Kandungan TDN hay antara 50-60% <  biji-bijian 75-90%. Pemberian hay untuk ruminansia dan kuda biasanya ditambahkan sejumlah protein dan mineral. Kualitas hay ditentukan dengan : tingkat kematangan, warna hijau terang menunjukan pengeringan yang benar dengan karoten yang tinggi. Perubahan hijau normal menunjukkan adanya penurunan kualitas disebabkan oleh air hujan, bleaching oleh sinar matahari, atau sudah terlalu tua. Aroma hay juga dapat menunjukkan kualitas, hay berjamur atau busuk menimbulkan bau apek yang mengurangi palatabilitas atau nilai nutrisinya.

2.4 Pucuk Tebu

Susunan taksonomi tumbuhan, kedudukan tanaman tebu dapat  diklasifikasikan sebagai berikut: Kingdom: Plantae, Divisi: Magnoliphyta,  Subdivisi: Angiospermae, Kelas: Liliopsida, Ordo: Poales, Famili: Poaceae, Genus: Saccharum, Spesies: Saccharum oficinarum (Dwiyanto, dkk, 1996).

Hasil ikutan tanaman tebu merupakan pakan sumber serat atau energi yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak ruminansia adalah pucuk tebu, daun tebu, ampas tebu (bagase), blotong dan tetes (molases). Pucuk tebu memiliki daya cerna dan nilai gizi yang relatif rendah, hal tersebut dapat dilihat dari kandungan serat kasarnya yang cukup tinggi (42,30%). Akan tetapi dengan tindakan pengolahan kimiawi, hayati dan fisik, secara signifikan mampu meningkatkan daya cerna, kandungan gizi dan konsumsi pakan (Dwiyanto, dkk., 1996).

Masa tersedianya pucuk tebu di Indonesia adalah bulan April sampai bulan Nopember dengan puncak ketersediaan dari bulan Juni sampai September. Pucuk tebu belum dimanfaatkan secara maksimal mengingat kendala yang dihadapi berkaitan dengan ketersediaan pucuk tebu. Selain itu, seperti umumnya limbah pertanian pucuk tebu memiliki nilai nutrisi dan biologis yang cukup rendah. Hal ini disebabkan oleh tanaman pertanian tersebut dipanen pada saat hasil utamanya telah mencapai tingkat kematangan yang diinginkan (Mathius, 1993).


Untuk lebih jelas mengenai Makalah Bahan Pakan Kelas I (Jerami Ubi Jalar, Hay, Pucuk Tebu) bisa dilihat di preview di bawah ini dan jika ingin mendownload makalah ini dalam bentuk pdf bisa menekan button unduh disini.




Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

2 komentar

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© Note-Student | Share Science
Posts RSSComments RSS
Back to top