Sabtu, 17 Juni 2017

Laporan Praktikum Produksi Babi - Kunjungan ke Rumah Potong Babi Ciroyom Kota Bandung





PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
  
Peternakan adalah salah satu bidang pertanian yang menghasilkan komoditas daging, susu, telur dan hasil-hasil olahannya serta hasil sisa produksi. Daging sebagai salah satu bahan makanan yang hampir sempurna, karena mengandung gizi yang lengkap dan dibutuhkan oleh tubuh, yaitu protein hewani.

Ternak babi merupakan ternak penghasil daging yang sangat efisien, sehingga ternak babi memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi sebagai ternak potong. Selain pertumbuhan badannya yang cepat, ternak babi juga mampu memanfaatkan segala jenis limbah pertanian, tidak membutuhkan lahan pemeliharaan yang luas, dapat meningkatkan kesuburan tanah serta memiliki litter size yang tinggi.


Pemotongan babi dilakukan dengan beberapa tahan mulai dari tahan penimbangan hingga tapah terakhir pemotongan karkas dari babi. Karkas atau daging babi merupakan salah satu komoditas penting ditinjau dari aspek gizi, sosial budaya, dan ekonomi. Industri karkas babi mempunyai prospek ekonomi yang cukup cerah, karena usaha peternakan babi relatif mudah dikembangkan, daya reproduksi tinggi dan cepat menghasilkan. Untuk memenuhi permintaan pasar, maka selain kuantitas, produsen diharapkan dapat menyediakan  karkas babi yang berkualitas. Hal yang terpenting yang menjadi titik kritis dalam menghasilkan karkas adalah cara pemotongan.

Maka dari itu di praktikum lapangan ke Rumah Potong Babi di Ciroyom Bandung ini dilakukan agar kita mempelajari, mengamati dan mengetahui bagaimana proses atau tahapan pemotongan babi. Hingga pada akhirnya kita bisa mengetahui bagaimana tahapan pemotongan babi di rumah potong babi.

1.2 Identifikasi Masalah

(1) Bagaimana tahapan pemotongan babi.
(2) Bagaimana perbedaan berat babi hidup dengan berat karkas.

1.3 Maksud dan Tujuan

(1) Dapat mengetahui tahapan pemotongan babi.
(2) Dapat mengetahui perbedaan berat babi hidup dengan berat karkas.

1.4 Waktu dan Tempat
Hari/Tanggal : Sabtu, 27 Mei 2017.
Waktu : Pukul 09.00 – 10.30 WIB.
Tempat         : Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jl. Arjuna No. 45 Ciroyom Bandung.



II
KAJIAN KEPUSTAKAAN

2.1 Babi

Ternak babi adalah ternak monogastrik penghasil daging yang memiliki  potensi besar untuk dikembangkan dalam rangka pemenuhan kebutuhan protein hewani bagi masyarakat. Hal ini disebabkan karena ternak babi memiliki keunggulan antara lain karena pertumbuhannya yang cepat, konversi ransum yang sangat baik dan mampu beradaptasi pada kondisi lingkungan yang beranekaragam serta persentase karkasnya dapat mencapai 65% - 80% (Siagian, 1999). Salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan ternak babi adalah masalah pakan. Hal ini disebabkan karena pertumbuhan dan perkembangan ternak babi sangat tergantung pada pakan yang diberikan dan biaya untuk penyediaan pakan pada usaha beternak babi dapat mencapai 80% dari total biaya yang dibutuhkan (Sihombing, 1997).

2.2 Persentase Karkas

Bobot karkas sangat dipengaruhi oleh bobot potong ternak tersebut, akan tetapi dengan bobot potong yang tinggi tidak selalu menghasilkan bobot karkas yang tinggi pula (Whittemore 1980).  Hal ini dapat disebabkan adanya perbedaan bobot kepala, darah, bulu, isi rongga perut, dan isi rongga dada. Rataan umum persentase karkas berada pada kelas satu berdasarkan patokan karkas menurut USDA berkisar 68-72%  dan termasuk kelas satu menurut (Forrest dkk., 1975).

Boggs dan Merkel (1984) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan karkas babi adalah bagian dari ternak setelah dilakukan pengeluaran darah, pemisahan bulu, kuku, kepala, isi rongga perut dan rongga dada. Menurut Seputra (2004), persentase daging akan semakin tinggi jika tebal lemak punggungnya semakin tipis, dan sebaliknya persentasenya akan semakin rendah jika tebal lemak punggungnya semakin tinggi.

Perbedaan kualitas karkas ini menurut Soeparno (2004) disebabkan oleh perbedaan perlemakan dan perdagingan yang dapat dilihat berdasarkan panjang karkas, bobot karkas dan ketebalan lemak punggung. Persentase karkas sangat dipengaruhi oleh berat hidup dari ternak tersebut, akan tetapi dengan berat hidup yang tinggi tidak selalu menghasilkan berat karkas yang tinggi pula. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan berat dari kepala, darah, bulu, isi rongga perut dan isi rongga dada.

2.3 Rumah Potong Babi dan Pemotongan Babi 

Perlakuan atau penanganan hewan ternak sebelum dipotong akan mempengaruhi nilai karkas atau daging yang dihasilkan. Untuk sampai ke tempat pemotongan ternak-ternak tersebut mengalami perjalanan dari tempat asalnya, dan selama dalam perjalanan, sering terjadi kerusakan atau cacat pada kulit dan mutu karkas.  Selain itu akibat perjalanan dapat menimbulkan cekaman (stres) pada ternak yang akan menyebabkan terjadinya penyusutan pada bobot badan.  Penyusutan bobot badan ini berkisar 2 - 5 persen, besarnya persentase penurunan bobot badan ini dipengaruhi oleh iklim, jarak antara asal ternak dengan rumah potong hewan (RPH), cara transportasi, kondisi kesehatan dan daya tahan ternak (Natasasmita, 1987).

Salah satu syarat yang harus diperhatikan dalam proses pemotongan ternak untuk memperoleh mutu karkas atau daging yang baik, yaitu ternak yang akan dipotong harus tidak dalam keadaan lelah atau habis dipekerjakan. Oleh karena itu ternak yang akan dipotong harus diistirahatkan dalam tempat penampungan khusus (Holding Ground).  Dalam tempat penampungan harus dijaga agar ternak tidak saling beradu, karena bila hal itu terjadi maka perlakuan istirahat tidak akan bermanfaat, bahkan menurunkan kualitas pemotongan. Lamanya pengistirahatan ternak yang akan dipotong bervariasi.  Menurut Gerrard (1977) ternak yang akan dipotong sebaiknya diistirahatkan selama  24 - 36 jam, Williamson and Payne (1993) 16 - 24 jam, dan Soeparno (1994) 12 - 24 jam.

Kepala di pisahkan dengan cara memotong pada daerah tulang atlas dan Occipito kemudian dilakukan pengulitan. Kepala dicuci dan periksa apakah terdapat penyakit ataukah tidak. Selanjutnya daging pipih, lidah, otak, mata diambil sebagai produk sampingan (komponen Non Karkas).

Persyaratan rumah potong babi menurut SNI 01-6159 (1999) rumah pemotongan hewan harus dilengkapi dengan Sarana jalan yang baik menuju Rumah Pemotongan Hewan yang dapat dilalui kendaraan pengangkut hewan potong dan kendaraan daging, persediaan air untuk babi seitar 450 liter/hari, harus tersedia air panas untuk pencelupan sebleum pengerokan bulu.

Bangunan utama rumah potong hewan menurut SNI 01-6159 (1999) ter dapat daerah kotor yang terdiri dari tempat pemingsanan, tempat pemotongan dan tempat pengeluaran darah, tempat penyelesaian proses penyembelihan (pemisahan kepala, keempat kaki sampai tarsus dan karpus, pengulitan, pengeluaran isi dada dan isi perut, tempat untuk jeroan, kepala dan kaki, tempat untu kulit dan tempat pemeriksaan posmortem. Daerah bersih terdiri dari tempat penimbangan karkas dan tempat keluar karkar. Di dalam bangunan utama harus dilengkapi dengan sistem rel (railling system) dan alat penggantung karkas yang didisain khusus dan disesuaikan dengan alur proses untuk mempermudah proses pemotongan dan menjaga agar karkas tidak menyentuh lantai dan dinding.


III
ALAT, BAHAN, DAN PROSEDUR KERJA

3.1 Alat

(1) Pisau, berfungsi untuk mengeluarkan darah babi.
(2) Martil, berfungsi untuk melakukan stunning pada babi.
(3) Timbangan, berfungsi untuk menimbang babi.
(4) Pisau besar, berfungsi untuk memotong karkas babi.

3.2 Bahan

(1) Babi hidup, berfungsi sebagai ojek praktikum
(2) Air panas, berfungsi sebagai perendaman untuk memudahkan pembersihan bul.

3.3 Prosedur Kerja

Proses Pemotongan Babi

  • Penimbangan bobot hidup babi.
  • Stunning, proses pemingsanan babi dengan cara memukul beberapa kali kepala babi dengan martil.
  • Killing, proses mematikan babi dengan pisau
  • Pengeluaran darah bleding di alirkan ke saluran pembuangan.
  • Proses perendaman babi dengan air panas, berfungsi untuk memudahkan dalam pembersihan bulu pada babi.
  • Proses pembersihan bulu babi dengan menggunakan pisau dengan teknik pengerokan.
  • Evisceration pengeluaran jeroan.
  • Pemotongan kuku dan kepala.
  • Penimbangan bobot karkas.
  • Pemotongan karkas.


IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1      Hasil Pengamatan
4.1.1     Pengamatan Pemotongan  Babi

4.2      Pembahasan
4.2.1     Sejarah Rumah Pemotongan Babi Ciroyom

Bandung memiliki rumah potong babi (RPB) yang terletak di Jalan Arjuna No. 45 Ciroyom Bandung. PRB ini menyatu dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Bandung dan di lingkungan Dinas Pernatian dan Ketahanan Pangan terdapat juga Rumah Potong Hewan khusus sapi. Rumah Potong ini berdiri pada tahun 1935 dan merupakan bangunan peninggaan belanda. Hal tersebut terlihat dengan gaya bangunan kantor seperti rumah-rumah Belanda dan perlatan pemotongannya bekas peninggalan Belanda. RPB ini merupakan cagar budaya peninggalan Belanda yang dilestarikan dan mendapat renovasi pada tahun 2012.

Ketua dari Rumah Potong Babi Ciroyom adalah Bapak Buseri dengan wakil Bapak Yana. Setiap hari pada PRB ini  mampu memotong babi sekitar 40 ekor, dengan pemotongan dilakukan pada malam hari. Babi yang dipotong merupakan babi yang dikirim dari wilayah Jawa Tengah yaitu Solo, Yogyakarta dan Magelang. Babi yang dikirim tidak langsung dipotong tetapi di karan tina terlebih dahulu di penampungan khusus (holding ground), hal tersebut bertujuan agar mendapatkan kualitas dari karkas babi yang baik.

Rumah Potong Babi Ciroyom jika dilihat dengan standar rumah potong hewan menurut SNI 01-6159 (1999) dapat ikaakan RPB tersebut sesuai karena jika dilihat dari sarana jalan yang baik menuju RPB, mudah dilewati oleh mobil pengangkut hewan. Tersedianya juga air panas yang berfungsi untuk mempermudah pengerokan bulu. Selain itu bangunannya juga terdapat daerah kotor yang terdiri dari tempat pemingsanan, tempat pemotongan dan tempat pengeluaran darah, tempat penyelesaian proses penyembelihan (pemisahan kepala, keempat kaki sampai tarsus dan karpus, pengulitan, pengeluaran isi dada dan isi perut, tempat untuk jeroan, kepala dan kaki, tempat untu kulit dan tempat pemeriksaan posmortem. Daerah bersih terdiri dari tempat penimbangan karkas dan tempat keluar karkar. Sistem rel (railing System) atau alat penggantung karkas juga tersedia untuk  mempermudah proses penimbangan dan pemotongan karkas.

Babi yang dikirim untuk di potong ke RPB Ciroyom juga dilakukan pengistirahatan di kandang. Terdapat juga kandang pengistirahatan, dijelaskan juga selama pengistirahatan babi diberi pakan konsentrat dan sayuran. Pengistirahatan dilakukan selama 2 hari hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi Pale, Soft and Exudative (PSE) pada daging atau daging akan basah, cepat busuk dan erwarna agak kehitaman. Pengistirahatan berbeda dengan pendapat Gerrard (1977) ternak yang akan dipotong sebaiknya diistirahatkan selama  24 - 36 jam, menurut Williamson and Payne (1993) 16 - 24 jam, dan Soeparno (1994) 12 - 24 jam. Hal tersebut dikarenakan perbedaan wilayah dan perbedaan proses pemotongan.


Untuk lebih jelas mengenai Laporan Praktikum Produksi Babi - Kunjungan ke Rumah Potong Babi Ciroyom Kota Bandung bisa dilihat di preview di bawah ini dan jika ingin mendownload makalah ini dalam bentuk pdf bisa menekan button unduh disini.




Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© Note-Student | Share Science
Posts RSSComments RSS
Back to top